Takut?

Aku siap menjadi abu atau debu. Menjadi kayu bakar untuk menghangatkan dan menciptakan nyaman  yang kau bayangkan.

Sungguh aku benar-benar siap menjadi abu atau debu. Untukmu.

Tak ada yang berubah dari aku. Masih seperti rel kereta yang lurus dan yakin dalam mencintaimu. Bimbang? Itu masa lalu. Sekarang aku adalah Juliet, Roro Mendut sekaligus Layla yang setia bagimu.

Kau tahu apa yang ada dibenak Mendut ketika keris Wiroguno menerjang dada Pranacitra? Kau paham apa yang dipikirkan Juliet saat menenggak cawan itu? Kau mengerti yang dirasa Layla saat Qays menangsi melalui serulingnya di tengah gurun yang senyap? Cinta. Ya, cinta butuh kaki dan tangan untuk berwujud di bumi dan menjadi manfaat.

Kau percaya padaku bukan?

Iklan

Menjadimu

Aku mungkin tak pernah bisa mengeja setiap huruf yang kau hidangkan. Aku lebur dalam inginmu dan menjadi apapun.

Aku menjadi gunung ketika kau menginginkan keperkasaan dan kemapanan, lalu seketika saja aku merubah diri menjadi bulan ketika kau menggumam tentang keindahan malam, dan sekejap kemudian aku mengubah diriku menjadi kecoak yang busuk ketika kau bimbang.

Tetapi lebih sering aku adalah lilin yang selalu terbakar. Ya, terbakar menjadi abu tanpa pernah tahu untuk apa dia mesti menyalakan diri. Tapi kupikir aku tak harus peduli bukan? Setidaknya atas nama cinta dan kenyamanan.

Kau menjadi begitu rumit akhir-akhir ini. Bukankah kau tahu aku selalu ingin menjadi yang kau mau? Membuat nyaman, membuat kau bisa berpikir dengan tenang dan lain sebagainya. Tapi sungguh, aku kehabisan nafas mengikuti gerakmu.

Read the full post »

Api

Ta, maafkan aku yang selalu membawa api belakangan ini. Alih-alih berharap mendapat hangat, kau malah terbakar. Terbakar untuk sebuah keentahan. Kau lah tanah liat itu Ta. Dibentuk, terbakar dan menjadi tembikar…Lalu di hempaskan.

“Apakah tidak menjadi penting bagaimana aku merelakan diri menjadi tanah liat yang dapat kau bentuk sesuka hatimu? Setelah kau bentuk, akupun rela terbakar untuk menguatkan tanah liat itu agar menjadi sebuah tembikar indah. Lalu setelah tembikar itu selesai, dengan gampangnya kau hancurkan. Aku dimana?” gugatmu suatu hari. Seperti biasa aku hanya diam. Ya, karena memang tidak ada yang harus aku katakan, kau sepenuhnya benar.

Setelah api tak bisa menghangatkanku, kembali kucoba setubuhi bulan dan bintang. Dan ternyata mereka gagal mengindahi malam-malam kita. Kini aku mulai menyalahkan ruang dan jarak yang kejam memisahkan. Tidak tangung-tangung, rencongku pun ikut menari diantara kita.

“aku lelah. Kita tidak akan kemana-mana dengan begini” ujuarmu datar.

Aku bersepakat sekaligus menentang semua ini. Kita tahu memang jalannya akan seperti ini dan berjanji akan selalu bersama-sama walau harus berdarah-darah. Tiada akhir bagiku bila itu untuk bersamamu. Tidak.

Mari genggam tanganku lagi. Sematkan percayamu pada dadaku. Jangan menyerah.

Maaf Teman

Maaf teman, bila ini harus berakhir bukan salahmu. Hari-hari berhujan itu tak akan terulang lagi. Begitu juga gelap, terang dan segala keindahannya. Suara yang biasa menuntunmu juga akan melemah dan kemudian berangsur lenyap. Semua bukan tanpa kau sadari. Karena rambunya kupasang tepat dihadapanmu.

Bila kemarin aku disana, itu juga bukan salahmu. Juga bukan karena keisenganNya. Aku bukan iblis yang ingin menggodamu. Dengan sadar menjerumuskanmu dalam neraka jahanam. Aku juga bukan malaikat tanpa sayap seperti katamu suatu hari. Turun rendah menggapaimu lalu membawamu ke nirwana. Memabukkan. Merengkuhmu untuk dihempas paksa ke bumi. Tak berperasaan. Bukan, aku tak begitu.

Selamanya ada disisimu berteman segala diam dan kensunyian. Mencoba memahami dari setiap kebisuanmu. Namun aku selalu saja terbata-bata dalam memahamimu. Membiarkanmu menjauh disaat aku membutuhkan dirimu. menatapmu bagaikan cahaya yang seharusnya bukan menjadi milikku untuk menikmati segala tentang dirimu.

Aku memilihmu karena kau. Mari sembuhkan segala luka itu dan kita bangun kembali serpihan hati yang hancur.

Perjalanan

“Janji ya,” begitu ujarmu sambil menautkan jari kelingkingmu pada jari kelingkingnya. Sepulang dari Musium Fatahillah Jakarta malam itu tampak kau memikirkan banyak hal. Aku hanya menemani dan diam. Ini hal baru buatku. Yang pasti besok malam kau –juga aku- harus kembali kesana untuk memenuhi janjimu itu. Mungkin dia tak begitu peduli dengan janji yang kau buat dengannya. Tapi aku tahu, kau akan sekuat tenaga untuk memenuhinya. Dan jangan lupa sebuah mainan masak-masakan yang dia idamkan dan ingin kau wujudkan. “Nama lu Irma kan?” ujarmu sok mengakrabkan diri. Irma yang kau ajak ngobrol itu sedang duduk dipangkuanku. “Lu..lu..” ujarnya sambil menatap sinis padamu. “Eh iya, anak cantik nama kamu Irma kan?” kau melarat ucapanmu. Aku hanya bisa mesem-mesem melihat gayanya yang ingin di hormati itu. Melihat ukuran tubuhnya Irma mungkin baru berumur empat tahun. Didadanya tampak banyak bekas luka. Seperti luka sundutan rokok. “Ini kenapa Ma?” tanyamu sambil memegang bekas luka pada dadanya. “Jatuh” jawabnya sambil membuang muka. Lima ribuan yang kau berikan kepadanya membuat dia mungkin agak sedikit memiliki waktu untuk bermain sejenak. Kecrekan botol air mineral berisi beras yang biasa digunakan buat ngamen tergeletak begitu saja. Dengan beberapa temannya dia asyik bermain buaya-buayaan. Keisengan dengan suka menjahili temannya tak jarang membuat dia jadi sasaran anak yang lebih besar. Tapi namanya anak-anak marahan hanya bertahan beberapa saat saja. Terus kembali berteman. Seandainya orang dewasa juga seperti itu ya pikirku. Malam terus beranjak turun. Anak-anak pengamen itu kembali pulang. Entah pulang kenapa. Terlihat beberapa anak digiring oleh ibu mereka. Mereka saling kenal berkenal dan ada beberapa adalah saudara bersaudara. Seperti Yuli yang kakak dari Dwi, teman sepengamen Irma. “Besok temani aku lagi kesini ya?” Aku yang kau ajak berbicara hanya senyum saja. “Oia, sekalian temani beli mainan buat Irma” Aku mulai membayangkan seperti apa besok wajah Irma bila menerima mainan masak-masakan darimu itu. Tak sadar pelukanku dipinggangmu semakin erat di atas motor yang melaju membawaku kembali pulang.