Salamatahari

Roh

Posted by: salamatahari on: September 25, 2008

“Setelah orang menjadi baik, apakah ia masih membutuhkan agama,” begitu tanyaku padamu.

Aku tak mengerti, yang kutahu kau terdiam. Biasanya kau akan berucap begini, “ngomongin Tuhan berat, ngomongin agama juga berat, topik yang tidak tahu kapan berakhirnya bila memulai ngomongin itu. Dan mungkin setiap orang akan berbeda-beda cara untuk  mengakhiri pencariannya”

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan retoris, “Apakah agama memang “diturunkan” untuk membuat kebaikan, atau jangan-jangan dia justru nggak di design seperti bayanganmu tadi,” katamu kalem.

Nah lho, begini niy kalau nekat ngomongin agama dengan orang tak beragama, ngomongin tuhan dengan orang tak bertuhan. Ditanya apa, yang dijawab apa, Jaka Sembung bawa golok kan?

“Agama sebagai seperangkat nilai mestinya organis dan berkembang menyesuaikan tingkat peradaban masyarakatnya. So, apakah agama yang kamu maksud tadi kompatibel dengan kelaluan, kekinian dan kemasadepanannya kelak? Jangan-jangan kalian itu cuma jayus saja,” ucapmu dengan ekspresi datar, sedatar jalan tol.

Jayus? Beragama dibilang jayus? Oh my God, racun apa yang ditelan manusia ini sepanjang hidupnya.

Baca entri selengkapnya »

Jurang

Posted by: salamatahari on: September 2, 2008

Jleeebb…Pesawat televisi dinyalakan.

Seorang presenter sedang membawakan sebuah acara infotainment. Acara ini dikenal dengan para presenter yang membawakan berita dengan sangat ekspresif. Bibir maju kedepan, intonasi suara yang tegas dan tentunya di tambah backsound yang terkadang hanya untuk mendramatisir suasana saja.

“Dengan datangnya Ramadhan banyak artis yang harus mengurangi kegiatan Dugem yang biasa mereka lakoni. Mari ikuti penulusaran kami terhadap beberapa artis dalam menyambut Ramadhan dan kegiatan Dugem mereka”.

Kemudian sebuah wawancara dengan seorang artis di sebuah café berlangsung. Si artis duduk bersama temannya. Aneka makanan dan minuman bertabur di meja mereka. Suara tawapun terdengar disela suara musik yang keras.

“Bagaimana tanggapan mbak dengan pembatasan jam malam di tempat-tempat hiburan malam?” Tanya sang reporter.

Baca entri selengkapnya »

Buah

Posted by: salamatahari on: Agustus 6, 2008

Malam mengalir cepat. Berebut dengan gigil dan memilih menggelap bersama bayang-bayang pepohonan yang berlari cepat kebelakang. Aku mendekapmu. Ya, mendekap erat dan tak sedikitpun berniat melepaskan. Angin laut menerpa wajahmu dan menggeraikan anak rambut yang menyembul diantara penutup kepala itu. Kau masih ingat bukan Pelabuhan Ratu itu?

Ah, jarak yang memuai memang menyebalkan. Belum lagi waktu yang seolah bersepakat untuk kembali memisahkan kita. Malam yang lain?

Tentu saja tak terhitung banyaknya. Ingat ketika di depan museum di kawasan Kota, aku duduk di atas bulatan-bulatan mirip batu itu dan kau memilih duduk dibawah. “Biar merasa lebih dekat saja” ujamu saat itu memberi alasan. Ya, hanya itu kata-katamu. Selebihnya kau kembali tenggelam dalam Raffles-mu.

Ingat saat kita bermalam di Monas? Sampai pagi berselimut dingin dengan ribuan nyamuk yang meneror di kepala, kau tetap terjaga. Sesekali tanganmu menepuk kaki atau tanganku mengusir pergi nyamuk-nyamuk kelaparan itu. Apa yang kau pikirkan kala itu? Kulihat matamu menerawang jauh menembus pekat seolah mencari jawaban. Benarkah hanya aku?

Ingat malam-malam di kosan sumpek, pengap dan panas itu. Tak ada yang akan kau lupakan bukan? Ah, aku juga berharap semua abadi.

Parno

Posted by: salamatahari on: Agustus 4, 2008

Dia menunduk menggapai pangkal jari kakinya sekaligus mengusir belasan lalat yang asyik menjilati boroknya, seketika rombongan lalat itu semburat kabur sambil menggerutui dan memaki nasib sialnya. Setelah gerombolan lalat itu kabur, sambil bersendawa puas disilangkan kakinya. Lalu setengah hati diambillah bungkusan nasi yang sebentar tadi sempat di tinggalkannya. Mulutnya kembali mengunyah, berhenti, dan mengunyah lagi. Sesekali ekor matanya mencuri pandang pada tempat sampah yang merupakan lumbung makannyanya. “Masih aman” pikirnya tenang.

Tak juga dipedulikan gaduh gelisah dari seberang jalan. Seperti biasa gedung besar sombong dan angkuh itu mengejek makan siang dan boroknya. Dari perutnya seperti lebah berhamburan ke jalanan manusia-manusia sambil berceloteh sesamanya. Ya betul, mereka memang mirip lebah yang terbang bergerombol menyerbu apa saja, yang dimasak atau mentah, yang halal atau haram, yang berjajar atau berbaris, semuanya diserbunya. Tak bersisa dari warung kaki lima, warteg, warung padang, restoran siap saji sampai restoran yang lama saji semuanya diserbunya.

Baca entri selengkapnya »

Jonggrang

Posted by: salamatahari on: Agustus 3, 2008

Siang baru saja meredup ketika Bandung Bondowoso menemui Jonggrang yang sedang termangu di kaputren. Semuanya senyap, termasuk kutu-kutu walang ataga yang ikut-ikutan malas meperdengarkan cericitnya. Semua bersepakat memilih jalan sunyi. Benar. Sejak penaklukan Bandung, kutharaja berubah menjadi lonceng kematian bagi manusia penghuninya. Mati dan kematian menyapa lewat pedang, tombak dan panah para tentara Bandung Bondowoso.

Mengungsi. Ya, semua yang ingin hidup harus menyingkir dari kutharaja begitu pekik Jonggang pada kawulanya. Berbondong-bondong laki-laki, berbondong-bondong perempuan sampai anak-anak mengalir menganak sungai. Tentu setelah sebelumnya harus mengiklaskan kepala bapaknya, kepala kakeknya atau kepala ibunya menjadi pelengkap pesta pora burung nazar atau kawanan ajag dan srigala.

Ingsun nedya asung bebungan mring sopo wae sing biso gawe’ake tumpukan gembung paling duwur” teriak Bandung Bondowoso saat melangkahkan kakiknya masuk sitiinggil.

Kepala itu, oleh para prajurit Bandung disusun bertingkat membentuk piramida. Diseluruh penjuru Kutharaja para komandan tentara saling berebut untuk membuat tumpukan tertinggi. Semakin tinggi piramida buatannya maka kelak bebungah yang akan diterima para komandan tentara dari Bandung akan makin banyak. Tak heran, pemandangan lazim di kutharaja adalah piramida-piramida kepala dengan segala kegeriannya. Kepala-kepala itu dengan air muka -yang kebanyakan kesakitan-, sebagian hancur atau rusak dihadapkan keluar.

Baca entri selengkapnya »

SalamSapa

…dan matahari…

adalah cinta yang tidak pernah berakhir. dialah awal dan keakhirannya

SalaMualaikum

  • 20,130 Pengunjung

SalamPenanggalan

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30