Salamatahari

Archive for the ‘Tokoh’ Category

Menolak kartini…

Posted by: salamatahari on: April 22, 2008

Dulu ketika seragam sekolahku masih putih merah dan lidahku masih kesulitan untuk mengeja huruf er, hari kartini (maaf huruf k-nya sengaja di kecilin-red) selalu menarik minatku. Bagaimana tidak, dihari itu pemandangan di sekolah menjadi lebih semarak. Yups, baju putih dan rok merah dihari itu dipensiunkan. Sebagai gantinya aku -begitu juga murid perempuan yang lain- berdandan [...]

Reinaldo

Posted by: salamatahari on: Februari 26, 2008

…bisu di sekelilingku saat ini,
Hatiku beku dadaku bergetar
Tak lagi merasakan air mata yang mengalir
Tak ada lagi tawamu kawan…
Hanya diiringi gitar bolong Gastao Salsinha dan beberapa kawannya bernyanyi. Lamat-lamat suaranya mengalir pelan dan merayap mengelus padang alang-alang lalu menembus latar pegunungan dibelakangnya.

Sang Ayah; Castro

Posted by: salamatahari on: Februari 25, 2008

Pagi buta 26 Juli 1953, gudang senjata El Quartel Mocada, Propinsi Oriente Kuba dibangunkan oleh rentetan letusan senapan. Tentara Batista yang sedang lelap kontan kalang kabut dan membalas sekenanya. Tentu saja mereka terdesak, tapi seiring matahari yang terus meninggi peruntunganpun juga berbalik. Menang jumlah dan peralatan, pelan tapi pasti tentara pemerintah dapat menguasai keadaan. Penyerang [...]

Cut Nyak Dhien; Sebuah Akhir di Tanah Sepi

Posted by: salamatahari on: Januari 28, 2008

Tanggal 11 Desember 1906, Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok. Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. [...]

Pocut Baren; Warna Dalam Peperangan Aceh

Posted by: salamatahari on: Januari 28, 2008

Pada tahun 1910, Belanda yang dipimpin langsung oleh Letnan Hoogers melakukan penyerbuan secara besar-besaran terhadap gua di Gunung Mancang yang disinyalir markas para pejuang Aceh. Pasukan Belanda ketika itu mengalami kesulitan melacak keberadaan gua ini. Hingga suatu saat, keberadaan gua tersebut diketahui.