Posted by: salamatahari on: November 25, 2008
“Sore, gak sepedaan bu?” sapamu di awal YM-an kita.
“Gak, lagi capek” balasku. “Gimana NGO-mu?” tuliskuku lagi. Teman YM-ku tak lain si-NGO asal Jawa. Sama-sama suka bersepeda dan menghabiskan sore di taman kota.
“Finelah. Lagi sibuk apa niy?” balasnya.
“Gak sibuk kok. Lagi santai malah” jawabku asal.
“ya iyalah, masa PNS Aceh sibuk. Gak banget kali” tulisnya ditambah icon smile yang cekikikan. Sialan, ngajak ribut niy anak. Baru beberapa kalimat udah bikin rusuh. Kebayang deh wajah katroknya yang lagi tertawa senang. Huh, awas ya.
“Enak aja. Stereotipe lo” balasku. Dia cuma membalas dengan icon tertawa.
“Oups, sorry. Orang Aceh tipis kuping ya?”
“Sialan, ngajak ribut?” tulisku. Kali ini icon smile berguling-guling tampil di layarku.
“Nanti jam 5.30 ketemuan di taman yang ada dermaganya ya. Aku mau kerja lagi. C U. Wasalam” tulisnya langsung sign out. Sialan niy orang, sudah bikin gondok langsung di tinggal pergi.
Biasanya kalau sudah sampai di taman akan panjang lagi ceritannya. Ada saja caranya untuk mengusik rasa ke-Acehan ku. Beberapa simbol dilekatkannya pada suku paling barat Indonesia ini. Suka perang, tipis kuping, berpolitik warung kopi dan lain sebagainya. Tapi untuk urusan kepahlawanan wanita, ia bersujud dikaki The Queen of Aceh Batlle Cut Nyak Dhien yang Aceh dan membelakangi Kartini yang Jawa.
Ah iya, sekarang November. Hihihi, pasti mau ngobrolin Cut Nyak niy. Terang saja, tak perlu waktu lama berbasa basi diapun mulai dengan pertanyaannya tentang Cut Nyak saat kami bertemu di taman.
“Di Banda Aceh ada perayaan apa untuk mengenang Cut Nyak Dhien?” tanyannya tak sanggup basa-basi lagi.
Tuhkan benar, memang niy anak selain ingin beromantisme juga ingin bikin rusuh kayaknya. Tampak sore yang indah ini bakal suram dengan pertanyaannya. Dan memang selalu hanya memerlukan satu pertanyaan pembuka untuk memulai debat (kusir) yang panjang ini. Entah “kudanya” kemana.
“Nggak ada. Emang mau diperingati seperti apa?” jawabku tak minat.
“Ya dengan bersepeda kan bisa napak tilas perjalanan Cut Nyak” jawabnya serius
“Mendatangi tempat-tempat bersejarah? Terus dapat apa?” tanyaku malas
“Ya mengenang kembali perjuangnnya”
“Yakin kalau Cut Nyak berharap demikian?” tanyaku cuek
“Lah, memang kenapa? Kok malah bawa-bawa Cut Nyak segala? tanyannya agak bingung.
“Aku pikir, kalau aku melakukan seperti apa yang kamu sarankan, maka Cut Nyak dari dalam kubur akan bangkit sambil mengangkat rencong dan berkata “Kon untuk nyoe kamoe jak meu prang, bangai” jawabku. Derai tawa tak tertahankan meluncur bak air bah dari mulutku. Mengapa tidak, tertawaku karena melihatnya bengong dan bingung. Bengong mungkin untuk bahasa Acehku. Dan bingung karena tak tahu yang aku katakan dalam bahasa Aceh itu. Ah, lega. Setidaknya skor berubah.
Tapi begitulah yang ada dalam pikiranku. Memperingati tak hanya sekedar seremonial. Mendatangi museum, tempat bersejarah atau sekedar menaburkan bunga di kuburan. Lebih dari itu, memperingati adalah memaknai apa yang dicita-citakan untuk diwujudkan kongkrit. Cut Nyak berperang bulan melawan khaphe-nya, tapi penindasan, kesewengan, ketidak-adilan, kemiskinan-nya. Bahwa tidak ada yang kuat lalu boleh menindas yang lemah. Yang berpengetahuan memperbudak yang tak berpengetahuan. Sehingga yang bodoh terus bodoh dan yang miskin semakin miskin. Kalau itu bisa terwujud disini, Cut Nyak mungkin akan tersenyum puas di dalam kuburnya. Lalu setelah itu kamu boleh memperingatinya dengan bersepeda kemanapun kau mau.
ada yg nantang tuh!
Kalo mau berperang, pegi ke aceh dulu.
Kalo mau membangun peradaban, pegi ke aceh dulu.
Abes tu, kau ingat aj si aceh tu kmn pun kau pegi.
Kalau blm tau seperti apa itu peperangan, gmn bisa kau bgn peradaban???
Kalau g ngerti adab, pastilah kau tak bisa memerangi kebiadapan???
Emangnya kau kira peradaban itu bisa dibangun dengan cara “diabaikan”???
*kalo mo nantang, siap2in logistik dulu lah*
Leubeh get ta peurunoe urg bangai, daripada meuprang ngen keledai.
PS: tantangan yg seenak udelnya, malah menyulut api permusuhan…dulunya org2 kek gitu udh ku ajak duel, satu lawan berapapun. Dialog absurd di kedai kopi ^^
Kalo ragu, komennya di delete aj. Selesai perkara. ^^
Wah seru juga nih ceritanya…jadi? Ada sinisme ya? Anyway, keep blogging ya, my fren!
Aceh….. hmm..
kemane aje lo?
ilang di negeri sendiri?
hoi… hoi… hoiii….
*ga peduli ada kolom khusus, nyampah sembarang tempat*
modersi… moderasiii…..
“Memperingati tak hanya sekedar seremonial. Mendatangi museum, tempat bersejarah atau sekedar menaburkan bunga di kuburan. Lebih dari itu, memperingati adalah memaknai apa yang dicita-citakan untuk diwujudkan kongkrit.”
aaah…. aku setuju,
November 25, 2008 pada 8:55 pm
Kalian memilih berperang terus dan abai membangun peradaban? Kapan mau mulai?