Posted by: salamatahari on: November 20, 2008
“Benar kamu orang Aceh?” tanya teman baruku. Kerja di NGO asing, asal tanah Jawa.
“Ya, aku orang Aceh. Setidaknya aku lahir dari rahim seorang wanita Aceh yang memiliki suami Aceh pula. Udara Aceh ini juga yang kuhirup saat tangisan pertamaku membahana di dunia” jawabku penuh percaya diri
“Cinta dunk kamu sama Aceh”
“Biasa aja. Aku mencintai kebaikan” jawabku diplomatis
“Oh, bisa bahasa Aceh?” tanyannya lagi
“Bisa” ucapku cepat. Lalu diam sejenak. “ehmm…sedikit” sambungku sedikit ragu. Dia tak salah bila bertanya demikian, karena setiap ngobrol dengan teman sedaerah, aku sangat jarang menggunakan bahasa Aceh, hampir tidak pernah. Kalau pun temanku berbahasa aceh, biasanya aku jawab dengan bahasa Indonesia. Dia ingin mojokin pikirku. Tak ingin buruk sangka. Kubiarkan dia bertanya lagi.
“Tahu dunk sejarah Aceh?”
“tak banyak” jawabku datar saja. Kali ini lebih berhati-hati
“Kenal pahlawan Aceh?” sambungnya lagi
“Tidak semua. Hanya yang diajarkan di buku sekolah saja. Itupun tak ku ingat semua”
“Bagaimana bisa meng-klaim kalau kamu orang Aceh. Bahasa Acehmu masih diragukan. Sejarah Acehpun kamu tak paham. Belum lagi kamu tak kenal pahlawan di tanah sendiri” ujarnya langsung ke inti masalah.
“Memangnya kenapa?” tanyaku sambil mengeluarkan “rencong”. Cari masalah niy orang.
“Malu dunk, masa ngaku orang Aceh, tapi tak secuilpun tahu tentang Aceh”
“Aku memang tidak fasih berbahasa Aceh. Sejarah tanah rencong inipun aku tak tahu. Para pahlawan Aceh adalah hafalan pelajaran sejarah di sekolahku. Lalu apa karena itu aku menjadi bukan Aceh?” jawabku berapi-api. Mukaku memerah, nada suarakupun meninggi. Mungkin kalau telur di jatuhkan kekepalaku akan langsung matang. Dia telah menyenggol rasa ke-acehanku. Dasar Jawa, umpatku dalam hati.
“Maaf deh. Bukan gitu, bukannya rasa cinta itu berawal dari rasa sayang dan kenal?” ujarnya mulai melunak.
Dia tak sepenuhnya salah. Dan aku juga tidak merasa bersalah. Aku anak jamanku. Mengenai bahasa maaf saja, dari lahir yang kudengar adalah bahasa ibu pertiwi ini, bukan bahasa Aceh. Kalau sejarah dan segala atribut pahlawannya, aku memang tidak terlalu mendalami. Jadi wajar saja kalau aku rabun tentang Aceh.
Seperti yang aku bilang, aku mencintai kebaikan. Tak peduli dimana aku lahir. Mencintai menuntut konsekuensi bukan? Aceh tanah lahirku. Aku dibentuk oleh budayanya.
Negeri Aceh banyak memberi kebaikan untukku, mungkin untuk semua yang pernah mencicipinya. Tanah yang kaya mengenyangkanku. Air yang berlimpah menyegarkanku. Tarian yang anggun mempesonaku. Kisah heroismenya menginspirasiku. Tapi ditanah ini juga darah yang tertumpah tak pernah sempat mengering. Bahkan amisnya masih tercium hinga sekarang. Genderang perang nyaring disini, kau akan hafal irama serta rentaknya.
Di serambi Mekkah inilah setiap penguasa menebar perangkapnya. Setelah selesai dengan meriam Belanda, jaring merah anak negeri sendiri menjerat lebih kuat. Ya, tanah menjadi lebih merah dan basah. Tak hanya satu, jutaan orang pergi, hilang dan tak kembali. Mereka menjadi nisan dan gundukan tanah tak bernama. Tumbal atas nama keutuhan. Belum sempat air mata yang menganak sungai berhenti dan luka masih segar berdarah sembuh, gelombang dahsyat datang.
Tsunami Aceh, bencana terhebat sepanjang abad. Tak hanya melenyapkan ribuan bangunan dan ratusan ribu manusia, tsunami menyapu peradaban Aceh. Tak benar-benar bersih memang. Karena sisannya di kerjakan oleh NGO/LSM atas nama “bantuan”. Aceh kehilangan iramanya. Irama yang membawa ribuan Iskandar Muda, Di Tiro, Umar, Polem, Nyak Arif dan Beureuh rela menyerahkan jiwanya.
kapan yah bisa ke aceh ?
dasar Jawa, umpatku…
wkakakakakaaaaa…
November 20, 2008 pada 7:42 pm
“Cinta dunk kamu sama Aceh”
“Biasa aja. Aku mencintai kebaikan” jawabku diplomatis
(dan laki-laki Jawa bukan?)
Laki-laki jawa yang agamanya “berbuat baik”.