Salamatahari

kedai

Posted by: salamatahari on: Oktober 7, 2008

Kedai bakso Rahayu tampak ramai siang ini. Belasan kursi yang tersedia nampak penuh. Di deretan ujung, dekat dengan jendela sepasang muda-mudi tampak mesra. Sepertinya mereka baru jatuh cinta. Terlihat dari binar mata si gadis yang selalu lekat pada sang kekasih. Begitu juga senyum di bibir lelaki muda pasangannya, cerah seperti matahari bulan Agustus yang terang dan hangat. Sesekali tawa renyah mereka memecah, membuat iri pengunjung lain.

Salah satu yang mungkin tampak sangat iri adalah lelaki lebih separuh baya yang duduk di seberang mereka. Rambutnya nyaris memutih semua, ditambah beberapa kerut-merut diwajah lengkaplah cerita panjang waktu yang tertempuh. Selalu dengan ekor matanya, si lelaki lebih separuh baya itu melieik pandang pada keduanya.

Aku tak tahu yang dipikir lelaki lebih dari separuh baya saat melihat pasangan bercinta itu. Mungkin ia mengenangkan pada masa mudanya yang lewat dan tak mungkin diulang, atau ia justru sedang teringat pada anak-anaknya yang beranjak dewasa dan mungkin saja baru mengenal cinta. Persis seperti pasangan di depannya.

“Bakso dan es teh manis saja” jawabku ketika pelayan lelaki yang bertubuh kecil, berwajah tirus dan bermata elang itu bertanya apa menu yang aku mau.

Tak menunggu lama, yang kupesan sudah tersanding dimeja. Sepertinya enak, karena dari aromanya perutku yang sejak pagi belum terisi langsung bereaksi. Menjerit tak sabar minta jatah.

Saat hendak kusuap bakso kemulut. Masuk kewarung bakso seorang perempuan. Badannya kecil, bahkan mungkin bila tak membawa bayi digendongannya dia lebih mirip anak SMP yang baru lulus. Sebentar kulihat dia berbicara pelan pada penjual bakso sambil menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, sementara tangan kirinya tampak erat menggenggam dompet yang berisi beberapa amplop putih dengan kop amplop bertuliskan nama sebuah mesjid. Sejenis dengan amplop yang dibawa oleh pencari sumbangan untuk pembangunan mesjid yang pernah datang kerumahku.

Dengan langkah pelan ia menuju kursi di depanku yang memang kosong. Dikendurkan kain gendongan dari bahunya dan berbicara dengan anaknya sambil sesekali melihat orang disekitarnya. Sebetulnya tak ada yang menarik dari ibu muda ini. Tak beda dengan perempuan kebanyakan lainnya. Kecuali satu hal, matanya. Bukan, bukan karena matanya indah. Menarik mungkin karena kesahajaannya, atau mungkin karena pandangan gugupnya. Ya, mata gugup itu seperti mata penyaksi yang selalu menelan segala pedih sendirian.

Pandangannya selalu menunduk dan menghindari dari pandangan pengunjung lain. Entahlah, aku tak tahu apa yang sudah atau sedang dialaminya, tapi kelihatan betul, dia hanya ingin makan bakso dan tak ingin terlibat apapun selain itu.

Mungkin, termasuk membalas senyum yang berkali-kali kuulaskan padanya. Baru setelah beberapa kali senyumku tak berbalas, akhirnya tampak juga bibirnya yang kikuk dan kaku membalas senyumku. Berbeda dengan ibunya, anak semata wayang yang menyertainya bermata akrab dengan pijar yang menggemaskan.

“Aco… aco…” pintanya si anak, sambil tangannya menarik-narik kain ibunya yang tersampir di pundak.

“Adek mau maam bakso ya?” tanyaku pada si anak. Si anak hanya menatap dalam. Kulihat si ibu ingin menjawab pertanyaan yang ku ajukan kepada anaknya, tapi bibirnya hanya bergerak namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

Sambil menunggu pesanannya datang, kembali disapukan matanya pada pengunjung. Tatapan matanya berhenti lama pada riuh empat gadis cantik disebelah kirinya. Gadis-gadis itu tampak riang dengan belanjaannya. Yups, sepertinya mereka memang mampir ke kedai bakso seusai berbelanja kebutuhan untuk kuliahnya. Beberapa buku, sepatu baru dan entah apalagi bungkusan-bungkusan yang menyesak ditas belanjaannya.

Seperti tersadar, tiba-tiba ibu muda itu tersentak. Pandangannya langsung melihat dompet lusuhnya yang tak dapat di tutup lagi itu. Resletingnya rusak. Sambil memilah-milah antara amplop, lembar ribuan serta recehan, dikeluarkannya logam lima ratusan, kemudian menarik nafas lega. Logam-logam itu masih utuh empat belas keping.

Aku tak tahu yang dipikirnya. Sungguh. Tapi sepertinya ia ingin langsung segera membayar bakso yang belum juga datang, mungkin takut, kalau-kalau harganya berubah.

“Tinggal dimana?” tanyaku.

” Di Setui” jawabnya singkat. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Ini dari mana?” ah, pertanyaan konyol pikirku. Kulihat dia kesulitan untuk menjawab. Dan aku langsung memperbaiki keadaan itu.

” Oh, keliling-keliling ya” menjawab pertanyaanku sendiri. dia hanya tersenyum.

“Saya berasal dari Kuta Cane” lanjutnya tanpa diminta. “Kalau Bapaknya dari Meulaboh” sambil menunjuk si anak.

Dia berhenti menjelaskan. Bakso pesanannya datang, empat belas logam limaratusan yang dikumpulkannya tadi langsung diserahkan. Benar bukan yang kupikir!!

“Minumnya biasa bang” pintanya lirih pada pelayan. Biasa? Tak lama kemudian segelas air putih dihantarkan.

Didudukkan anaknya dikursi sampingnya yang kosong. Tak lupa, dibaginya sebagian mie dan bakso yang belum berbumbu dipiring kecil untuk anaknya. Si anak yang tak sabar, bakso dan mie dicomotinya satu-satu tanpa sendok. Disuapnya cepat-cepat kedalam mulut sambil sesekali tangan kanannya mengelap ingus yang menganak sungai dari hidungnya.

“Daging lemak itu jangan diberikan” ujarku menunjuk ke piring si anak. Dia mengindahkan peringatannku.

Lalu ceritanya mengalir tak terbendung. Seminggu lalu dia diusir mertuanya karena suami yang bekas GAM kawin lagi. PadahalĀ  dirinya sedang hamil. Tak ada harapan untuk bertahan, dia memilih menjadi pengemis dan anak digendongannya selalu diakuinya sebagai anak yatim.

Di Banda Aceh dia sendirian ditengah derap ratusan NGO yang bertingkah layaknya sinterklas. Ya, NGO berpaling darinya karena NGO tak mungkin mengail untung darinya, negara tak perduli, NAD juga. Tuhan? Sebuah suara dari langit lirih menjawab, “auk ah elap”

4 Tanggapan ke "kedai"

Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

sebegitu pesimiskah pada Tuhan ? hmm.m..

pa kabar num!lama gak denger kabar

kapan makan bakso lagi

hohohohohohhoho

aaah.. masalah gender memang selalu menarik tuk dibahas, apalagi dikondisikan dengan masalah sosial.

peace-peace…

Tinggalkan Balasan

SalamSapa

…dan matahari…

adalah cinta yang tidak pernah berakhir. dialah awal dan keakhirannya

SalaMualaikum

  • 21,072 Pengunjung

SalamPenanggalan

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031