Salamatahari

Roh

Posted by: salamatahari on: September 25, 2008

“Setelah orang menjadi baik, apakah ia masih membutuhkan agama,” begitu tanyaku padamu.

Aku tak mengerti, yang kutahu kau terdiam. Biasanya kau akan berucap begini, “ngomongin Tuhan berat, ngomongin agama juga berat, topik yang tidak tahu kapan berakhirnya bila memulai ngomongin itu. Dan mungkin setiap orang akan berbeda-beda cara untuk  mengakhiri pencariannya”

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan retoris, “Apakah agama memang “diturunkan” untuk membuat kebaikan, atau jangan-jangan dia justru nggak di design seperti bayanganmu tadi,” katamu kalem.

Nah lho, begini niy kalau nekat ngomongin agama dengan orang tak beragama, ngomongin tuhan dengan orang tak bertuhan. Ditanya apa, yang dijawab apa, Jaka Sembung bawa golok kan?

“Agama sebagai seperangkat nilai mestinya organis dan berkembang menyesuaikan tingkat peradaban masyarakatnya. So, apakah agama yang kamu maksud tadi kompatibel dengan kelaluan, kekinian dan kemasadepanannya kelak? Jangan-jangan kalian itu cuma jayus saja,” ucapmu dengan ekspresi datar, sedatar jalan tol.

Jayus? Beragama dibilang jayus? Oh my God, racun apa yang ditelan manusia ini sepanjang hidupnya.

“Bos, dari awal ente sudah jaka sembung, yang ente lihat sebagai agama, sebagai perangkat nilai, sosial maupun religius tak lebih dari apa yang diperbuat, dilakukan dan diyakini para penganutnya. Cara pandang ini geblek dan kebalik karena justru membandingkan yang ideal itu praktisnya, dan yang praktis itu idealnya. Mestinya ide itulah yang menjadi pemandu dalam praktisnya. Tuhan, agama dan nilailah yang harus dilihat mula-mula yang harus membentuk masyarakat. Bukan menilai perilaku masyarakat lalu bikin stempel bahwa agamalah yang membuat mereka seperti itu, huh… uh..uh” berondongku nyaris kehabisan nafas.

“Udah,” tanyamu kalem sambil mengisap rokokmu dalam-dalam.

“Sialan loo…”

“Ya sudah kalau begitu, kamu benar kok. Kebetulan aku ngantuk. Tidur dulu ya…” kamu ngeloyor pelan sambil menjentikan putung rokokmu ke halaman .

“Waiiiiitttttt…..”  Ini kurang ajar namanya. Ngobrol lagi klimaks ditinggal ngabur gitu aja. Mana alasannya katrok lagi. Ngantuk!! Manusia ini bilang ngantuk di jam 11 malam? Jam 7 pagi saja matanya masih sebesar buah jengkol.

“Mau ngajak ribut loo…” ancamku.

“Wakakkakakak…” kamu langsung terbahak.

“Kenapa tertawa…” sungutku.

“Baru ngomongin agama, kau langsung nunjukin ciri-ciri bahwa kamu memang benar-benar penganut agama”

“Apa..?”

“Fanatik dan suka mengacam!! Tak percaya? Lihat bagaimana kelakuan Tuhanmu itu. Main ancam dengan ancaman klasik surga atau neraka. Emangnya manusia itu kereta yang tinggal jalanin relnya dan sampai di stasiun berikutnya dengan aman sentausa. Bagaimana dengan dialektika? Itu Tuhannya. Sementara manusianya paling doyan mengancam sesama lainnya dengan makian khasnya ; Dilarang guyon plus AWAS KEPALA!!!, kayak kamu tadi… he…he…he…”

“Wakakakka..” giliranku yang terbahak.

“Kenapa lo ketawa?” tanyamu dengan rasa ingin tahu.

“Pertama, ngantukmu tadi jelas bohong karena kau ngomong dengan mata yang mecicil kayak kesurupan. Kedua, yang selalu kamu lihat dalam agama selalu hanya dari satu sisi saja”

Kutambahkan juga bahwa mestinya agar mempunyai sudut pandang yang lebih objektif kau harus melihat semua dimensinya. Aku tak menyangkal bahwa banyak diantara umat itu yang menanampilkan warna tunggal, hegemonis, dan cenderung mau bener sendiri. Tetapi kau kan nggak bisa bilang bahwa itu mewakili keseluruhan nilai, ajaran dan perangkat sosial. Jadi pemahaman seperti itulah yang… Loh kok sepi.

Kuedarkan pandanganku. Sesosok tubuh mlugker manis di sofa. Nafasnya teratur mengalir satu demi satu. Ah, lelaki terkasih. Kuambil kain  dan kuselimutkan ditubuhnya. Met bobok sayang. Mimpi indah ya…

2 Tanggapan ke "Roh"

Materialisme tidak bisa menjawab kehadiran dan keberadaan TUHAN…karena materialisme hanya bisa melihat sebatas kemampuan dimana materi itu ada tapi sesungguhnya dibalik keberadaan itu pasti ada ketidakberadaan…dan itu adalah TUHAN…

Agama adalah rangkaian tata laksana untuk menghadirkan dan meng-ADA-kan TUHAN dalam kehidupan kita…

Gitu dulu ibu…komentar dari pojok redaksi dunia malam salahsatu ujung jalan kampus biru…heee…heee…

begitulah, mbak…
di satu sisi, ada yang menilai teosentrisme sebagai jalan mengantisipasi masalah kekinian, di lain pihak, ada pula yang mengagungkan antroposentrisme, di mana Tuhan pun mesti dipandang dari sudut manusia. Lain lagi, membicarakan Tuhan itu kendalanya cuma satu; fakta empirik.

Tinggalkan Balasan

SalamSapa

…dan matahari…

adalah cinta yang tidak pernah berakhir. dialah awal dan keakhirannya

SalaMualaikum

  • 20,130 Pengunjung

SalamPenanggalan

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930