Salamatahari

Parno

Posted by: salamatahari on: Agustus 4, 2008

Dia menunduk menggapai pangkal jari kakinya sekaligus mengusir belasan lalat yang asyik menjilati boroknya, seketika rombongan lalat itu semburat kabur sambil menggerutui dan memaki nasib sialnya. Setelah gerombolan lalat itu kabur, sambil bersendawa puas disilangkan kakinya. Lalu setengah hati diambillah bungkusan nasi yang sebentar tadi sempat di tinggalkannya. Mulutnya kembali mengunyah, berhenti, dan mengunyah lagi. Sesekali ekor matanya mencuri pandang pada tempat sampah yang merupakan lumbung makannyanya. “Masih aman” pikirnya tenang.

Tak juga dipedulikan gaduh gelisah dari seberang jalan. Seperti biasa gedung besar sombong dan angkuh itu mengejek makan siang dan boroknya. Dari perutnya seperti lebah berhamburan ke jalanan manusia-manusia sambil berceloteh sesamanya. Ya betul, mereka memang mirip lebah yang terbang bergerombol menyerbu apa saja, yang dimasak atau mentah, yang halal atau haram, yang berjajar atau berbaris, semuanya diserbunya. Tak bersisa dari warung kaki lima, warteg, warung padang, restoran siap saji sampai restoran yang lama saji semuanya diserbunya.

Dia Parno. Umurnya mungkin baru 30 tahun dan kalau pun lebih pastilah tak akan lebih dari 40 tahun, tetapi warna memutih yang menyebar rata diatas kepalanya seperti menyembunyikan kemudaan yang masih patut di rengkuhnya. Lagipula dengan pandangan matanya yang redup, orang akan langsung melihat ribuan tahun waktu yang menggendap menjadi telaga.

Usai makan dia berdiri, merenggankan otot-otot punggungnya. Suara bergemeretak belulangnya terdengar sesaat. Sebentar kemudian ia kembali membungkukan badannya memungut puntung yang sempat dimatikannya tadi sebelum makan. Dikeluarkannya geretan kayu. Dari celah kantung bajunya, crass… Crass… api langsung berpijar dan asap yang mengepul dari puntung dihisap dengan segala nikmat.

Sambil menikmati rokoknya, matanya mat-matan mengikuti kepulan-demi kepulan yang tak memperdulikan pada ketergesaan jam makan siang di sekitarnya. Ya, lelaki dengan borok dikakinya tak perduli, yang ada dipikirannya hanya kampung halamannya.

“Kapan pak’e pulang?”

“Secepatnya, begitu ketemu kang Parjo dan dapat duitnya aku langsung pulang.”

Percakapan itu sudah dua tahun lalu, ketika istrinya yang hamil dua bulan mengantarnya di depan pintu rumah. Walau rasanya getir, dikuatkan juga batinnya. “Sabar ya, kita pasti bisa melewati ini,” ujarnya menguatkan istrinya sebelum dia sendiri melangkah keluar rumah. Didadanya ada perih yang menyentak. Menderap-derap memperkosa kesadarannya. Tak ada yang tahu. Tak juga istrinya bahwa dia tak akan pernah kembali. Inilah perjalanan penghabisan dan ia kehabisan waktu. Kabar dari kampung yang dicomotnya dari sebuah koran sobek, kampungnya runtuh oleh tanah yang longsor. Tak satupun selamat.

Ah, tokoh kita masih tetap si Parno, yang lapar dan masih bisa bersyukur.

Tinggalkan Balasan