Posted by: salamatahari on: Agustus 3, 2008
Siang baru saja meredup ketika Bandung Bondowoso menemui Jonggrang yang sedang termangu di kaputren. Semuanya senyap, termasuk kutu-kutu walang ataga yang ikut-ikutan malas meperdengarkan cericitnya. Semua bersepakat memilih jalan sunyi. Benar. Sejak penaklukan Bandung, kutharaja berubah menjadi lonceng kematian bagi manusia penghuninya. Mati dan kematian menyapa lewat pedang, tombak dan panah para tentara Bandung Bondowoso.
Mengungsi. Ya, semua yang ingin hidup harus menyingkir dari kutharaja begitu pekik Jonggang pada kawulanya. Berbondong-bondong laki-laki, berbondong-bondong perempuan sampai anak-anak mengalir menganak sungai. Tentu setelah sebelumnya harus mengiklaskan kepala bapaknya, kepala kakeknya atau kepala ibunya menjadi pelengkap pesta pora burung nazar atau kawanan ajag dan srigala.
“Ingsun nedya asung bebungan mring sopo wae sing biso gawe’ake tumpukan gembung paling duwur” teriak Bandung Bondowoso saat melangkahkan kakiknya masuk sitiinggil.
Kepala itu, oleh para prajurit Bandung disusun bertingkat membentuk piramida. Diseluruh penjuru Kutharaja para komandan tentara saling berebut untuk membuat tumpukan tertinggi. Semakin tinggi piramida buatannya maka kelak bebungah yang akan diterima para komandan tentara dari Bandung akan makin banyak. Tak heran, pemandangan lazim di kutharaja adalah piramida-piramida kepala dengan segala kegeriannya. Kepala-kepala itu dengan air muka -yang kebanyakan kesakitan-, sebagian hancur atau rusak dihadapkan keluar.
Tinggi piramida kepala, rata-rata sepuluh depa dengan lebar kurang lebih duapuluh depa. Untuk membangun satu piramida yang mengerikan tersebut, prajurit Bandung setidaknya harus memisahkan seribu sampai dua ribu kepala dari gembungnya gembungnya. Kutharaja rebah bermandi darah menjadi karang abang. Hanya keputren yang tak tersentuh. Ya, hanya keputren. Keputren utuh karena memang begitu maunya si Bandung.
“Aku akan menjadi istrimu bila kau buatkan aku seribu candi malam ini” cetus Jonggrang tanpa melihat ketika Bandung menemuinya di dekat pemandian, tempat biasa Jonggrang berendam hanya dengan nyampingnya. Tetapi kali ini khusus untuk menemui penakluknya, Jonggrang berendam tak bernyamping. Dia berendam dengan segala pakaian kehormatannya. Ya, pakaian kehormatannya sebagai manusia. Telanjang setelanjang telanjangnya.
“Aku bisa merudaparipeksa dan aku pastikan tak akan gagal. Tetapi karena aku mencintaimu itu tak akan pernah aku lakukan” ujar Bandung. Yups, Bandung sebenarnya bisa saja mendapatkan Jonggrang dalam genggamannya, tentu saja, karena status Jonggrang hanyalah taklukan dan harta rampasan. Taklukan dari negeri yang telah dilumatkan karena menolak keinginan Bandung.
Ya, lumat seperti ayah dan ibuku, pikir Jonggrang. Masih lekat ayah dan ibunya dengan tangan yang terikat dipaksa menyembah pada penakluknya. Belum sempat tubuh keduanya membungkuk pedang Bandung lebih dulu menebas leher.Menggelundung begitu saja menyisakan jerit ngeri dan amis darah di sitiinggil.
“Seribu candi dalam semalam. Itu saja” pungkas Jonggrang sambil menyilangkan kakinya dan menengelamkan dirinya dalam air kolam bertabur bunga itu.
“Baik, setelah seibu candi itu. Akan aku lumatkan kaputren ini” Bagi Bandung seribu candi bukanlah yang sulit. Dia hanya butuh duduk, bersemadi dan memanggil piaraanya. Piaraan Bandung tak lain adalah jutaan dedemit, ilu-ilu, banaspati, gandarwa, dan mahkluk-mahkluk tak kasat mata lainnya.
Usai semedhi, serentak tanah lapang itu bergemuruh laksana dijejali angin ribut. Sinar-sinar bertebaran membentuk sebuah bayangan menakutkan dan memenuhi tanah lapang dengan sosok-sosok asing. Itulah tanda bahwa peliharaan Bandung datang dan siap melaksanakan perintah.
“Buatkan aku seribu candi dalam semalam!! Atau kalian aku rebus ke neraka selamanya”
“Sendiko dawuh Gusti”
Berderaplah jutaan kaki dan jutaan tangan membentuk tangan dan kaki-kaki raksasa. Tak sampai tengah malam seribu candi telah maujud menjadi bangunan-bangunan megah di pelataran pinggir sungai itu. Formasinya membentuk mandala yang aneh dan tak lazim. Tak hanya membangun candi, untuk memudahkan kaputren mengambil airnya balatentara tak kasat mata itu membelokan aliran sungai dari lereng gunung Merapi. Sungai yang tadinya lurus keselatan dibendung dan dialirkan kembali ke arah utara. Diujungnya, dekat keputren, sebuah ditanggul dibuat.
“Berhentiiii!!!!” Suara perempuan berteriak membelah keheningan malam. Itu suara Jonggrang tentu saja. Tak pernah terpikir seribu candi adalah hal yang mudah bagi Bandung, Jonggrang tergeragap takdirnya.
Mestinya tak seperti ini akhir cerita. Dalam dongeng-dongebg yang juga di dengarnya, balatentara jin itu gagal memenuhi seribu candi seperti yang dia mau karena tertipu dikira pagi sudah datang. Bandung yang menyadari muslihatnya marah lalu mengutuk Jonggrang menjadi patung sebagai pelengkap 999 candi yang telah berdiri. Mestinya seperti itulah kisah ini berakhir, pikir Jonggrang.
“Hentikan Bandung. Aku siap menjadi istrimu”
menurutmu, sudi mana Roro Jonggrang di jadikan selir atau patung yang ke-999
Agustus 4, 2008 pada 2:16 pm
ah.. Jonggrang.. hmmm..hh..