Salamatahari

Ayin dan Emak

Posted by: salamatahari on: Juli 30, 2008

Sore yang nyaman dengan buku lama Pram, “Mereka yang dilumpuhkan” terusik, ketika TV di ruangan menongolkan tayangan tentang vonis si ratu suap Artalyta “Ayin” Suryani. Lima tahun penjara plus denda dua ratus lima puluh juta adalah bonus yang didapat dari Pengadilan Tipikor. Dalam sidang-sidang sebelumnya ruang pengadilan menjadi drama dengan macam-macam episode. Tentu saja peran utama tetaplah Ayin, dialah yang menjadi roll dengan kemampuannya menangis, berbohong atau membeli jaksa.

Pengadilan Ayin adalah babak baru. Ya, babak baru dimana sebuah pengadilan tak hanya menjadi formalitas dan basa-basi. Semua mata menyorot dengan rasa ingin tahu, karena dari sana cerita kemudian merembet kemana-mana. Ayin vs Urip adalah gunung es bobroknya sistem hukum yang kita bangun. Semua menunjuk pada satu hal. Ada uang, semua bisa dibeli.

Tentu saja kemudian banyak yang terseret-seret. Yang paling sial tentu mantan Jamdatun Untung Udji Santoso yang kehilangan kursinya gara-gara telepon Ayin. Apakah hanya Jamdatun? Belakangan nyanyian Ayin mengular ke hakim agung di MA yang dibiayainya untuk ber”golf ria” sampai ke China. Selanjutnya? Padam dan hilang begitu saja mirip kentut.

Pernah Ayin menangis. Menangis bahkan dengan air mata bercucuran. Dengan tangisan itu  ia ingin tunjukan pada dunia dialah sebenarnya yang menjadi korban dari semua drama di PN Tipikor. Tangis sepertinya senjata andalannya, karena sebelumnya Ayin hanya tahu cara berbohong atau menyuap. Untunglah Mansyurdin Chaniago -ketua majelis hakim- tak terperdaya tangisan buaya itu.

Mengingat kebelakang, kebetulan atau tidak, dalam 30 hariku di Jakarta bulan lalu, berkali-kali aku berkesempatan untuk nongkrongi sidangnya. Ayin memang cantik walau kerut merut disekitar mata tak bisa menipu umurnya. Dandanannya modis dan wanginya selalu dikenang. Setidaknya itu yang bisa diingat Paimo -pamdal gedung bundar yang menjadi saksi di PN Tipikor- saat ditanya hakim apa yang diingatnya tentang Ayin.

Dalam 30 hari “liburan” itu, ruang pengadilan Tipikor menjadi Kuningan Jakarta menjadi sangat aku kenali lekuk-lekuk dan beberapa penghuni tetapnya. Tentu saja, dari semua yang paling aku kenali disitu selain Ayin adalah emak. Yups, karena emak dan warung ala-kadarnya itu seringkali menjadi dewa penyelamat dari bahaya kelaparan yang biasa mengancam begitu lewat tengah hari. Biasanya cukup arem-arem atau sekedar mie rebus dengan telur dobel plus teh botol teh botol. Atau dilain waktu seringkali perut sampai menjelang sore hanya terganjal kue dan segelas kopi.

Kenal emak? Pasti tidak ya? Kalau pengin kenal, baiknya sesekali datanglah ke PN Tipikor. Naiklah kelantai dua dan bergegaslah ke sebuah ruang di pojok dekat tangga. Tapi, jangan kaget bila ruang yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu seringkali penuh asap. Apa lagi kalau bukan asap rokok. Maklum, tempat emak merupakan salah satu surga bagi para perokok yang tentu saja tak mungkin melakukannya di depan hakim dan jaksa bukan?

Emak kita ini adalah perempuan Jawa asli Semarang yang tinggal di Cengkareng. Sesekali dia ditemani menantunya yang asli lampung dan sedang “isi” enam bulan untuk menjaga warungnya. Ramah? Tentu saja. Bahkan saking ramahnya semua yang sering nongkrong di warungnya dianggapnya menantu, dari Jablay -sopir KPK- sampai mas-mas Brimob yang gagah-gagah itu. (“Awas lho Mak, masku jangan diambil jadi mantu ya?” )

Membandingkan emak dan Ayin? Ah, Ayin dengan segala kekayaan dan hartanya tak akan pernah menjadi manusia yang utuh. Emak? Aku yakin uang tetap penting baginya. Tetapi seperti yang kulihat darinya, uang taklebih dari alat untuk bersaudara. Hi..hi.. tentu saja, karena kopi untukku atau makanan lainnya hanya berharga seribu perak.

Bila Ayin mendapat hadiah lima tahun dan denda dua ratus lima puluh juta dari PN Tipikor. Warung emak sepertinya hanya akan bertahan sampai Desember 2009. Yups, RUU Tipikor yang di godok pemerintah akan melikuidasi PN Tipikor dan warung emak sekaligus.

Tinggalkan Balasan

SalamSapa

…dan matahari…

adalah cinta yang tidak pernah berakhir. dialah awal dan keakhirannya

SalaMualaikum

  • 20,130 Pengunjung

SalamPenanggalan

Juli 2008
S S R K J S M
« Apr   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031