Posted by: salamatahari on: Juli 7, 2008
Di depan pintu ruang rapat komisi VII, beberapa orang asyik ngobrol. Sesekali obrolan gayeng itu di sela tawa lepas, saking kerasnya, suara tawa itu terdengar sampai ujung. Ruang komisi VII itu sendiri ada di ujung dekat pintu masuk gedung Nusantara I. Dibarisan itu, sebelah menyebelah adalah ruang rapat Komisi VI, IX dan XI yang berada di ujung lainnya. Bila suara tertawa lepas itu bisa didengar sampai di depan komisi XI, bisa dibayangkan betapa kerasnya suara itu.
Orang-orang yang ngobrol itu karena bebas tertawa keras tanpa ditegur pamdal, tentu saja bukan orang sembarangan. Karena dibaju safarinya tersemat lambang garuda. Yups lambang itu tentu bukan main-main, garuda itulah yang menunjukan bahwa mereka adalah sang tuan rumah di gedung itu. Ya, mereka tak lain dan tak bukan merupakan anggota DPR yang konon kabarnya sangat-sangat terhormat. Karena yang bicara adalah orang terhormat. Maka apapun yang dibicarakan pastilah hal-hal yang sangat terhormat. Apalagi dalam kondisi sekarang saat BBM naik tinggi dan lupa bagaimana cara menurunkannya kembali.
Tanpa bermaksud nguping, pelan aku beringsut dari duduk’ku. Tentu bukan duduk di sofa mentul-mentul , tetapi beringsut dari lantai, ke lantai juga. Sambil pura-pura mencoreti blok note yang memang sudah coret moret, kupasang telinga baik-baik. Ingin dengar apa siy yang dibicarakan orang-orang terhormat ini saat rakyat kembang-kembis dicekik BBM.
“Di Sentul rumputnya lebih bagus dibanding Pondok Indah, tetapi malesnya ya itu, jauh dan macet” kata lelaki berjas coklat berbadan subur yang kalau nggak salah ingat merupakan wakil dari sebuah partai Islam yang salah satu anggotanya di ciduk KPK karena tertangkap basah dalam kasus penyuapan. Dihadapannya lelaki berambut yang semuanya telah putih , bersafari yang tangannya tak henti-henti memencet HP Nokia versi mahalnya.
“Iyalah, tapi jauh dan macet impas dong dengan yang didapat” lelaki berambut putih berujar.
“Impas dalam tanda petik yaa..” Lelaki berhem coklat, berkacamata minus dengan muka aneh mirip burung hantu yang sedari tadi hanya menyimak ikut urun rembug. Walau sedari tadi memilih diam, ia bukannya tak memperhatikan, setiap kali ada yang berbicara raut mukanya menunjukan ia selalu penuh perhatian. Kalau tidak dengan ekor matanya, kepalanya dibungkukkan seolah takut akan kehilangan setiap patah kata lawan bicaranya, seolah setiap kata dalam obrolan itu wahyu saja layaknya. Tak boleh kurang atau lebih titik komanya.
“Tanda petik apa?” Kali ini lelaki berambut putih menukas. Walau diucapkan serius, mukanya menunjukan raut sebaliknya, senyumnya melebar dan ekor matanya malah bermain-main dengan perempuan berrok pendek yang melintas tergesa menenteng tumpukan map-map besar. Sampai perempuan itu membelok masuk ruangan, ekor matanya tetap tak mau lepas. Ketika matanya mengikuti tubuh perempuan itu, aneh bin ajaib tangannya seolah reflek tak lagi memencet-mencet HPnya. Sebagai gantinya, tangan itu berpindah ke kepala, menggaruk-nggaruk kulit kepalanya yang mungkin tiba-tiba saja gatal. Apakah kepalanya berketombe? Sepertinya tak mungkin kulit kepala seorang anggota DPR yang sangat terhormat itu bisa berketombe.
“Ya tanda petik, gitu aja kok repot…” kata lelaki berhem coklat menirukan Gus Dur dengan mimik yang dibuat-buat menyebalkan. Sebetulnya tanpa di buat-buat menjadi menyebalkan dia sudah sangat menyebalkan. Bagaimana tidak mnyebalkan. Dengan uban memutih yang memenuhi kepalanya, mestinya dia menjadi lebih santun, andap asor atau lebih kalem. Tetapi seperti semua hukum yang mempunyai pengecualian, lelaki muka burung hantu ini juga merupakan pengecualian dari manusia berumur yang terhormat dan baik-baik. Kehormatan baginya adalah kenalan presiden, mobil terbaru dan perempuan simpanan yang berumur belasan.
Tanda petik yang dimaksud tak lain kebiasaannya berspa setelah golf. Dari Sentul dia akan bermobil setengah atau sejam ke arah selatan, menembus Bogor dan terus melaju menuju puncak. Disana disebuah ada sebuah hotel berbintang lima yang rutin dikunjunginya karena pelayanan yang memuaskan seleranya. Apa siy yang memuaskan lelaki terhormat yang sudah bau kubur itu? Spa dan tentu saja servis all-in, plus-plus yang benar-benar plus pelayanannya.
(kayaknya bersambung dulu ya?)
Top marketop detail-detailnya. cie…cie…cie, dah sempat main ke gedung nusantara.
salam hangat
M
Juli 7, 2008 pada 10:31 pm
magang jurnalis, informan, spy, undercover? wkakaka…
gile.. rajin bener postingannye.. saluutt… :thumbsup: