Posted by: salamatahari on: Juli 3, 2008
Akan tercipta sebuah masa, ketika sistem kapitalis akan hancur berkeping-keping dan lonceng kematian hak milik pribadi kapitalis berdentang. “Penjarah akan dijarah” kata Karl Mark tahun 1867 saat menutup jilid pertama Das Kapital dengan optimisme.
Seratus tahun berselang dari peryataan itu, semuanya berubah total. Gerak balik dramatis justru terjadi di penghujung abad 20 saat blok Soviet runtuh dan kapitalis berjaya. Banyak yang beranggapan sosialisme tak lebih dari sekadar peninggalan masa lalu yang akan segera punah dalam proses perjalanan abad ini. Demikian Michael Newman, profesor politik dari Universitas Metropolitan London memulai dalam pendahuluan bukunya, “Sosialisme Abad 21 Jalan Alternatif Atas Neoliberalisme”.
Tampilnya kapitalisme sebagai satu-satunya ideologi tunggal yang dianut dunia tentu menggelisahkan banyak orang yang masih menganggap “the another world is possible”. Apalagi prakteknya kemudian, kapitalis dalam bentuknya yang paling mutakhir, neo-liberalisme nyata-nyata tak pernah berhasil menjawab tantangan dunia yang lebih ‘berkeadilan’.
Darimana memulai topik bahasan yang begitu luas dan merevitalisasi kembali ide-ide sosialisme? Newman memulai pembahasannya dengan pertanyaan penting. “Apa sosialisme itu?” Menurut Newman selama ini para pembela maupun penentang sosialisme yang seringkali menganggap “makna” kata sosialisme sudah jelas dengan sendirinya. Para penentang itu, yang atas semua bentuk sosialisme menolak semua bentuknya sembari menyamakan manifestasi-manifestasinya dengan yang paling ekstrim, terutama praktek kediktatoran Stalinis di Uni Soviet.
Sementara para pembela sosialisme cenderung mengidentikan sosialisme dengan bentuk tertentu yang mereka sukai. Newman mecontohkan, Lenin pernah mendefinisikan sosialisme sebagai ‘kekuasaan dewan soviet plus kelistrikan’ (soviet power plus ekectrification) atau seorang politisi Inggris yang mengatakan sosialisme sebagai “apa yang dilakukan oleh pemerintahan partai buruh”
Disini Newman mengajukan pendekatan bersifat esensialis untuk menjelaskan karakter paling fundamental dari sosialisme yakni pertama komitmennya terhadap penciptaan masyarakat yang egalitarian. Kedua, kemungkinan dibangunnya sebuah sistem egalitarian alternatif yang didasarkan pada nilai-nilai solidaritas dan kerjasama, tentunya hal itu mensyaratkan pandangan mengenai manusia dan kemampuan manusia untuk bekerjasama. Yang terakhir, banyak kaum sosialisme berkeyakinan bahwa mungkin menciptakan perubahan signifikan di dunia melalui perantara manusia yang sadar. Walau beberapa penafsir Marx lebih menekankan determinasi ekonomi sehingga keyakinan akan peranan manusia dalam menciptakan perubahan kadangkala tak ditemui.
Newman kemudian merujuk pada praktek-praktek sosial demokrat di Swedia dan komunisme di Kuba. Keduanya, menurut Newman dianggap paling kenyal menghadapi serbuan kapitalisme. Sosial demokrat di Swedia, setidaknya merupakan hasil pertentangan revisionisme ala Eduard Bernstein dan kubu komunisme Bolshevisme Rusia. Sosial demokrat memilih cara parlemen untuk mendirikan sosialisme sementara komunisme ala Bolshevisme dengan revolusi sosial. Dengan partai SAP (Partai Sosial Demokratik Swedia) awalnya tunduk pada garis Marxisme sampai kemudian ia lebih memilih ada seruan-seruan revisonisme. SAP berangkat dari Folkhemmet atau ‘negara sebagai rumah masyarakat’ yang kemudian diturunkan dalam lima tema sentral yakni demokrasi integratif, rumah masyarakat, kesetaraan sosio-ekonomi dan efesiensi ekonomi, kontrol ekonomi pasar secara sosial, dan ekspansi sektor publik yang didasarkan atas kebebasan pilihan.
Sementara Kuba menarik bagi Newman karena selain berbeda dengan komunisme yang dipraktekan di Uni Soviet atau China, melalui kepemimpinan karismatik Castro kebijakan revolusioner langsung menyentuh pada akar masalah rakyat banyak. reforma agraria radikal, pajak progresif untuk menyokong ekonomi nasional daripada investasi asing, menyokong ekonomi rakyat dan pembangunan di provinsi-provinsi kecil, serta kontrol atas ekspor dan perdagangan luar negeri. Tetapi dari banyak hal tersebut Castro paling berhasil di bidang Program pendidikan dan kesehatan. Dibawah kepemimpinan Castro, Kuba merupakan negara dengan fasilitas kesehatan dan jumlah dokter yang terbaik di Amerika Latin.
Capaian itu bertambah mengesankan dengan pemerataan program kesehatan gratis baik di kota maupun di pelosok desa. Disektor pendidikan dari pendidikan dasar hingga tinggi gratis dan ditanggung oleh negara. Keberhasilan itu menjadi sempurna dengan semakin menurunnya tingkat kesenjangan ras, dan meningkatnya partisipasi gender.
Walau begitu kedua negara tersebut bukannya tanpa kritik. Seiring makin gencarnya kapitalisme yang mengusung pasar bebas, nyatanya Kuba mulai mengakomodasi kapitalisme walau dalam skala terbatas. Selain itu keberhasilan Kuba yang didasarkan pada kepempimpinan karismatik Castro meningggalkan pertanyaan penting. Akankah rejim tersebut bertahan sepeninggalnya?
Diakhir bukunya Michael Newman setidaknya memberikan empat catatan kritis. Pertama, sosialisme kedepan selain haruslah bersifat demokratis, baik didalam organisasi maupun intitusi-institusi dimana dia beroperasi. Konkritnya, bila kaum sosialis menerima demokrasi berarti bisa pula dianggap bisa menerima sistem multi partai. Karena bagaimanapun partai seperti ini bisa digunakan untuk memajukan dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan sosialis. Kedua, berdasarkan pengalaman sepanjang abad 20, kaum sosialis harus bisa mengembangkan strategi-strategi ekonomi yang berkesinambungan. Ketiga, sosialisme abad 21 harus berupaya untuk memberikan jawaban kongkrit atas berbagai masalah yang ditimbulkan oleh monopoli kapitalisme. Daripada harus berawatak ideologis-totalistik, sosialisme mesti mengkombinasikannya dengan elemen-elemen lain yang progresif. Keempat, sosialisme di abad ini harus secara serius mengembangkan proyek kemanusiaan untuk menunjukan bahwa ada jalan lain di luar kapitalisme neoliberal.
just post a very brief question,
“do you think any other possible reconciliation between capitalism – if ‘it’ is embrassed by any ideology – and thus socialim – if ‘it’ is valued by sharing common ground for class struggles?”
salam kenal
tia
Juli 23, 2008 pada 2:38 am
Jika konsep sosialisme dipraktekkan dalam lingkup kehidupan yg kecil, semisal komunitas terbatas, saya kira semua orang akan menerima. Namun ketika sosialisme diangkat menjadi sistem yg mengikat ketat dalam lingkup luas bernama negara, inilah yg mungkin, menurut pemahaman saya, ditakuti sekaligus dikutuki, sebab lebih menjurus pada fasisme manakala pemegang otoritas tunggal sosialisme ada di tangan negara. Ia bisa menjadi otoriter. Dus, sebagai bebuyutan kapitalisme, sosialisme kurang pamor dan dukungan dibanding kapitalisme yg nyata2nya telah banyak mengukir prestasi dalam kurun beberapa abad ini–sekalipun harus meminta tumbal berupa tersingkirnya mereka2 yg tak memiliki kualifikasi untuk menjadi penguasa tunggal perekonomian.
Saya pun tak begitu suka dengan kapitalisme keparat itu.
Salam,