Salamatahari

May Day; Meneladani Marsinah

Posted by: salamatahari on: April 30, 2008

Mengenang Marsinah dan kematiannya belasan tahun silam adalah mengenang rimba. Berbicara mengenai rimba dan bahasa kekuasannya tentu tak ada nama yang pantas disebut selain macan, singa dan ular-ularan yang licik. Disana tak ada tempat buat kijang, tikus, kecoak atau mahkluk lemah.

Di rimba itu Marsinah tentu saja bukan sejenis macan, singa atau bangsa ular-ularan yang licik. Tetapi dia juga bukan dari jenis kijang, tikus atau kecoak yang lembek. Dia adalah mahkluk “lain” bukan dari golongan penindas, juga bukan dari golongan yang diam saja bila haknya ditindas. Di benaknya mungkin ia hanya mengenal kosa kata yang tunggal untuk ketidakadilan. Lawan!!

Tentu saja kata lawan itulah yang kemudian membuat tubuhnya ditemukan disebuah gubuk reot di pos jaga hutan jati Wilangan, 9 Mei 1993. Mengira Marsinah adalah orang gila yang sedang tertidur, anak-anak melemparinya dengan batu untuk membangunkannya. Ketika tetap tak bergeming, seorang petani memberanikan menghampirinya. Ah, tubuh Marsinah sudah tak bernyawa. Dari roknya mengalir darah yang sudah menghitam. Diduga benda runcing telah melubangi perutnya sedalam 20 centimeter itulah yang membunuhnya. Tak hanya itu, hiasan lainnya berupa memar di dagu, lengan dan paha. Selain itu, selaput daranya robek, sementara tulang kelamin bagian depannya hancur. Begitulah rimba bekerja dengan cakar dan taringnya.

Dalam khasanah rimba bersenjata Indonesia, buruh adalah mahluk aneh. Selain selalu dianggap sebagai hantu, buruh menempati posisi marginal dalam spektrum ekonomi kapitalistik hegemonis ala rezim otoritarian orde baru. Bahkan untuk memberangus pengaruh buruk bawaan oroknya, rezim disini sampai rela-rela memilihkan nama baru untuknya. Karyawan begitu sebutan menterengnya. Tentu saja tak lupa dibuatkanlah sebuah tumpeng untuk kendurinya. Siapa yang dapat bagian tumpeng? Tentu elite dan siapa saja yang bersedia menjadi pelacurnya.

Marsinah bukan elit buruh, apalagi elit yang suka berkhianat. Marsinah hanya seorang buruh. Dan buruh seperti Marsinah bisa lenyap begitu saja ketika ia mencoba menanyakan haknya. Tentu saja Marsinah adalah potret. Potret buruh asli produk dalam negeri yang bisa mewakili dan menjadi wakil siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Marsinah mungkin tak paham teori yang ndakik-ndakik ala aktivis, bahkan mungkin dia tak terlalu ngeh dengan analisa kelas ala marxis yang mumeti itu. Baginya masalah menjadi sederhana. Ditindas maka LAWAN!! Lawan? Bagaimana toolsnya? Entahlah kata-kata itu terdengar seperti kata-kata anak kuliahan yang m’­buruh hanya karena live in atau sekedar rekreasi kelas yang kapanpun bisa pulang balik netek pada patronnya. Siapa patronnya? Tentu rezim yang berkuasa. Nuduh? Silahkan saja cek nama-namanya.

Dus, buruh disini ibarat tersesat dalam rimba yang ruwet, jatuh dan tertimpa tangga. Bagaimana tidak rezim ekonomi yang manipulatif represif plus liberal, pengusaha yang eksploitatif dan kepemimpinan buruh yang oportunis dan petualang. So, sudah saatnya meneladani Marsinah sebagai dari buruh dan untuk buruh sebagai jalan keluar. Kerena percaya pada kelas menengah sebagai pemimpin buruh adalah bunuh diri.

Note :
maaf tulisan ini mestinya di publis tanggal 9 Mei untuk kado hari solidaritas buruh , berhubung kerjaan kantor numpuk tulisan yang sudah jadi ini tetap ngendon saja di draft.

2 Tanggapan ke "May Day; Meneladani Marsinah"

“ndakik-ndakik” wkakakakaaa…

Kelas menengah tidak bisa menjadi pemimpin?

Bukankah banyak buruh yg kemudian jadi “anggota” kelas menengah? Diberi fasilitas perusahaan utk memimpin komunitas buruhnya?

Tinggalkan Balasan

SalamSapa

…dan matahari…

adalah cinta yang tidak pernah berakhir. dialah awal dan keakhirannya

SalaMualaikum

  • 20,059 Pengunjung

SalamPenanggalan

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930