Posted by: salamatahari on: April 22, 2008
Dulu ketika seragam sekolahku masih putih merah dan lidahku masih kesulitan untuk mengeja huruf er, hari kartini (maaf huruf k-nya sengaja di kecilin-red) selalu menarik minatku. Bagaimana tidak, dihari itu pemandangan di sekolah menjadi lebih semarak. Yups, baju putih dan rok merah dihari itu dipensiunkan. Sebagai gantinya aku -begitu juga murid perempuan yang lain- berdandan mirip emak-emak dengan kebaya dan sanggulnya yang mirip ban radial.
Kalau sudah begini semua menjadi ribet deh. Acara favorit kala istirahat yakni lari kejar-kejaran atau main lompat tali mesti disingkiri jauh-jauh hari itu. Ya iyalah, mana bisa pakai kebaya dan bersanggul main kejar-kejaran sambil lompat tali. So, jadilah kartini di otak masa kecilku dimaknai sebagai keribetan kerena harus bersekolah mengenakan kebaya dan bersanggul. Dan maaf saja, bila hanya begitu rekamanku tentang hari kartini, tak kurang dan tak lebih. Tentang kartini sebagai pahlawan emansipasi perempuan? Ah, kupikir benda macam apa pula itu.
Belakangan ketika masa imutku lewat dan pemahamanku meluas, otak dipenuhi gugatan. Kenapa harus kartini? Hal berguna apa yang telah dilakukan perempuan kelahiran jepara itu untuk bangsa, hingga dia berhak menyandang sebutan pahlawan emansipasi? “Eh, kamu pikir pahlawan itu hanya mereka-mereka yang menenteng senjata dan membabat belanda?” Sebuah suara nyolot dari ruang dengarku. Sepakat!! Seribu persen sepakat, pahlawan tak tebatas pada jago perang atau para founding fathers bangsa, tapi kartini?
Kupikir -ini kupikir lho, jadi tentu saja subjektif- pahlawan emansipasi perempuan seperti yang selama ini disematkan pada kartini harus di tolak. Lho kok di tolak, memangnya kenapa? Entahlah… Tapi yang jelas, pemahlawanan kartini harus di lihat dan berangkat dari asumsi keindonesian yang jawasentris. He..he.. jujur atawa bohong begitulah adanya bukan? Kartini menjadi pahlawan karena dalam mainstream keindonesiaan, bahkan sampai sekarang, jawalah yang berkuasa dengan segala nilai-nilainya dan memilih bersetia pada gaya-gaya kerajaan ala mataraman atau majapahitan.
Loh kok malah jadi sara? Enggak lah. Tapi begini saja deh, andai kartini bukan lahir di jawa, kebetulan elit, dan belakangan rezim yang berkuasa di nusantara ini selalu rezim ala jawa. Apakah kartini akan tetap jadi pahlawan? Pahlawan emansipasi perempuan lagi. Memang benar sampai sekarang kedudukan perempuan masih jadi masalah di jawa, ini sepakat dan terpungkiri. Tapi masalahnya perempuan jawa seperti apa yang diperjuangkan emansipasinya oleh kartini. Tentu saja bukan perempuan jawa kebanyakan toh? Karena justru ketika kartini merengek-rengek dalam surat pada para sohibnya di Holland, perempuan jawa kromo telah menembus belantara sumatera bekerja sebagai kuli-kuli kontrak diperkebunan-perkebunan. Tentunya sambil tanpa banyak cincong tentang emansipasi seperti yang selalu di impikan kartini. So, yang ditulis dan yang dipikirkan kartini tak lebih dari sebuah keluh kesah seorang putri dari selir bupati yang ingin hidup sejajar dengan kaum penjajahnya?
Lihat saja surat perkenalannya dengan Estelle “Stella” Zeenhandelar, ia mengungkap keinginannya untuk menjadi seperti kaum muda di Eropa. Ia gambarkan penderitaan perempuan jawa akibat pasungan adat, karenanya ia tak bisa bersekolah, dipingit, lalu dinikahkan dengan laki-laki tak dikenal atau harus rela dimadu. Dalam bayangannya, lengkap sudah penderitaan perempuan jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumahnya. Stop!! Sekali lagi yang dimaksud jawa oleh kartini adalah jawa versinya, yakni jawa bangsawan yang feodal dan jangan lupa, wanita seperti kartini di jawa-pun merupakan lapisan tipis dalam struktur kemaasyarakat jawa secara umum.
Dus, ide kartini tentang emansipasi, tak lebih ide emansipasi ala holland yang diadopsi mentah-mentah -liberal minus ke arifan lokal-, elit perempuan jawa -yang selalu menjadi piaraan disangkar emas bangsawan jawa-, dan berada dalam bayang-bayang politik etis negara induk di Belanda sana. Dan sialnya ide-ide yang sudah kedaluarsa itu tetap dipelihara oleh rezim yang kolonial dan dilanjutkan rezim lokal indonesia yang feodal. Bahkan belakangan kartini disucikan lalu dijadikan mitos oleh rezim. Mitos? Bagaimana tidak, betapa berbuih-buihnya surat kartini pada karibnya tentang emansipasi -sesekali melangkolis dan erotis- tapi lihatlah!! kartini bahkan selalu gagal saat hendak mempraktekan ide-ide itu dalam kehidupan sendiri. Dia memilih menerima pinangan bupati rembang yang beristri tiga dan beranak enam. Tentu saja cukup puas sebagai selir.
Masih dalam surat-suratnya, kartini banyak mengungkapkan kesulitan yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Walau kebetulan memiliki seorang ayah yang berpikiran maju untuk ukuran sezamannya, tetap saja pintu untuk ke sana melalui sekolah tertutup. Awalnya dia bersama Rukmini -adiknya- bercita-cita untuk bisa menimba ilmu di Leiden atas biaya pemerintah Hindia -hi..hi.. murah hati kali si kolonial ini ya-, tapi belakangan niat itu urung. Dan kartini memilih, melanjutkan ke sekolah guru di Batavia. Tapi yang terakhirpun juga urung karena kartini keburu dilamar.
Yang paling ironis adalah, bahkan menjelang hari pernikahannya dengan sang bupati, kartini agak pasrah dan “berubah” dalam memandang jawa dengan segala budayanya. Ia menjadi lebih toleran dan beranggapan, pernikahannya itu akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginannya untuk mendirikan sekolah bagi perempuan bumiputera kala itu. Dia ‘kebetulan’ mendapatkan suami yang tak hanya mendukung keinginannya untuk mengembankan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan jawa, tetapi suaminya juga menyarankan agar dia menulis sebuah buku. (bandingkan dengan sekolah serupa versi Dewi Sartika yang dibangun tanpa menggadaikan pernikahannya)
Dengan segala ironi yang menyertainya bagaimana kartini harus dilihat sekarang?
Siang kemarin Senin (21/04), sebuah televisi dalam program beritanya menyuguhkan pemandangan menarik. Sopir busway-yang perempuan- mengenakan baju daerah dengan segala pernak-perniknya. Lho? Apakah mereka telah berubah dari perempuan yang metropolis menjadi pengusung nilai-nilai lokal yang fanatik, hingga kerjapun mesti mengenakan baju daerah?
Usut-punya usut belakangan aku baru ngeh, kalau mereka ternyata sedang memperingati hari kartini, tentunya sesuai arahan bossnya. Hihi.. ini menarik menurutku, karena kelakuan itu mengingatkan akan cara kami memperingati hari kartini ketika di bangku eSDe dulu. Padahal sampai saat inipun aku masih kesulitan memaknai hubungan antara kartini dan baju daerah. Tapi forgeted-lah dengan badut-badutan ala sopir busway -tentunya yang badut sesunggunya adalah yang memerintahkan bukan?- kupikir mereka just going order. Yang menarik justru pemahaman tentang emansipasi perempuan=kartini, dan kartini (hari lahirnya)=mengenakan baju daerah.
Boss, emansipasi bukan hanya bertingkah ‘aneh’ dengan mengenakan seragam daerah bukan? Emansipasi adalah tentang keberdayaan, so emansipasi perempuan tentunya harus dipahami sebagai keberdayaan perempuan? Dengan berbaju daerah seperti itu, apa yang hendak ditunjukan dengan “keberdayaan”-nya itu?
Sebuah misal tentang kekonyolan lainnya, aku baca di koran-koran nasional terbitan hari ini (22/4), disana ditulis program kereta perempuan gagal karena tak didukung oleh penggunanya.Dari awal idenya sudah konyol dan katrok, dalam kacamata pemilik kereta (PT KAI), perempuan diasumsikan lemah, tak berdaya sehingga selalu menjadi sasaran penzaliman dan pelecehan yang dilakukan laki-laki. Dus, untuk melindunginya diperlukan sebuah kereta yang khusus mengangkut perempuan.
Bahwa case seperti itu pernah terjadi -penzaliman dan pelecehan itu- aku tidak menutup mata kadang dan selalu masih terjadi. Tetapi solusi dan tindakan-tindakan karikatif seperti itu tak membawa perempuan kemana-mana, selain bahwa mereka tetap dianggap lemah dan perlu diberi perlindungan. Masalahnya lebih komplek dari itu bukan?
Dalam struktur masyarakat yang menindas -maaf bukan terhadap perempuan saja-, perempuan atau laki-laki dianggap sama, faktor pembedanya tak lebih dari kemampuan ekonominya dan kesetaraan aksesnya terhadap fasilitas publik. Dunia sekarang bergerak dan dinikmati bukan karena kamu laki-laki atau perempuan, tetapi kamu punya uang atau nggak. So, kenapa bukan hal ini saja yang dibongkar? Akses terhadap fasilitas publik tak dibedakan dengan asumsi lo mampu atau lo nggak mampu bayar. Dan kereta itu mestinya bukan kereta khusus untuk perempuan, tetapi kereta khusus untuk kaum tak berpunya solusinya.
Peminggiran terhadap hak-hak perempuan dalam bayanganku tak lebih dari sebuah ekses. Ekses dari pengabaian terhadap hak-hak kesetaraan yang lebih universal lagi. Sialnya para pejuang hak-hak perempuan disini inspired oleh hipokrisinya ala kartini, dan menganggap perjuangan itu terpisah dari emansipasi kemanusiaan secara umum. Mereka hanya bercerita tentang dirinya. Bukan bercerita tentang perempuan-perempuan kebanyakan di negeri ini. Kalaupun itu dianggap berjuang di ranah ‘dunia’ perempuan, dunia itu hanyalah dunia-dunia bagi perempuan yang terdidik, metropolis, dan ide-idenya berjarak dengan realita kebanyakan. Persis dengan kartini.
Duh padahal mestinya siy, ide tentang kesetaraan, persamaan hak, emansipasi perempuan tak hanya menjadi benda ajaib yang menggantung dilangit-langit. Dia harus bertangan dan berkaki agar dia bisa berpijak di bumi. Persamaan hak perempuan dan kesetaraan gender? Hiks, kayaknya ada yang lebih mendasar deh, yakni membebaskan kemanusiaan dulu. Tak perduli itu perempuan, laki-laki atau banci sekalipun harus dianggap sama tanpa pembeda dilihat oleh apapun dan oleh siapapun.
Maka kalau sudah begini, sampai kapanpun hari kartini akan tetap di pelihara oleh masyarakat yang disponsori negara sebagai badut-badutan yang kehilangan esensi kejuangannya. Alih-alih memberdayakan perempuan, tetapi malah melemahkan dan mereduksinya menjadi perjuangan yang vis a vis laki-laki -yang diasumsikan sebagai penindas-, padahal kupikir justru negara dengan strukturnya yang menindas ditambah budaya yang tak ramah bagi yang tak berpunya itulah yang harus dilawan.
Kupikir Marsinah, Sum Kuning-lah yang seharusnya diperingati dan dihidupkan di hati semua wanita. Yups, mereka memang bukan berjuang untuk perempuan Indonesia secara khusus tetapi merekalah yang selalu berjuang untuk kemanusiaan di Indonesia bahkan sampai akhir hayatnya. Intinya perempuan indonesia saat ini lebih butuh sosok-sosok seperti Marsinah atau Sum kuning, selain pemberani mereka juga akrab dengan keseharian perempuan kebanyakan. Sementara kartini yang cengeng dan kompromis biarlah tetap nangkring dan menjadi ‘pejuang’ di menara gadingnya yang rapuh.
iya ne komen lagi yang kemaren kenapa di hapus bu!!
tapi males koment tentang tulisan,,, semoga hanu sekeluarga sehat selalu!! cepet dapet jodoh n sukses kerjanya!
amin
wkakakakakaakakaakaaaa…..
tulisan bagus. hanya, yang tidak saya lihat dari tulisan ini adalah menempatkan ia pada zamannya, pada terang masanya, menempatkannya pada panggung ia hidup. dengan itu, saya kira, kritik terhadap kartini bisa jauh lebih berbobot dan –tentu saja– bisa jauh lebih adil.
kritik terhadap kartini, saya kira, banyak berasal dari cara timbang masa kini. jadi, wajar aja jika kartini lantas tak cukup lagi memesona.
nice post, mevrouw!
April 22, 2008 pada 11:44 pm
Sepakat!!! Marsinah, Sum Kuning adalah kita, mereka berjuang dan menjadikan perjuangannya tersebut sebagai bagian dari kesehari-hariannya.