Salamatahari

Cut Nyak Dhien; Sebuah Akhir di Tanah Sepi

Posted by: salamatahari on: Januari 28, 2008

tjoet_njak_dien-_the_queen_of_jihad.gifTanggal 11 Desember 1906, Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok. Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat. Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 08 November 1906 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan tua itu.

tawanan-perang.jpgPerjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatannya yang sangat buruk, perempuan tua nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung.

Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu yang belakangan karena penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama disebut dengan Ibu Perbu. Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah The Queen of Aceh Batlle dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Ya, hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari tanah air dan orang-orang yang dicintai.

Gadis kecil cantik dan cerdas bernama Cut Nyak Dhien. Dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Lampadang tahun 1848. Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teeku Nanta Setia yang merupakan keturunan perantau Minang yang datang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Pada usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII. Dari perkawinannya itu belakang dia dikarunia seorang anak laki-laki.

Suasana perang yang bergelanyut diatmosfir Aceh pecah ketika 1 April 1873, F.N. Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh. Dan Tjoet Nyak Dhien tentu ada disana, ditengah tebasan rencong, pekik perang dan dentuman meriam.

Dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan di bakar tentara Belanda.

“Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?”

Perang Aceh adalah cerita tentang keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir, begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap harinya waktu dihabiskan untuk berperang, berperang dan berperang melawan Kapke Ulanda.Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Gle Tarum 29 Juni 1070. Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.

Tetapi bagi Tjoet, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, Teuku Cek Ibrahim Lamnga suaminya bukan juga monopoli Teeku Nanta Setia ayahnya atau para lelaki Aceh saja. Perang Aceh adalah milik semesta rakyat. Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak Dhien, dia tetap mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiaran putri bangsawan itu hanya dicurahkan pada perang. Berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian yang lain, kurang makan dan kurangnya rawatan kesehatan membuat kebugarannya merosot. Kondisi pasukannyapun tak jauh berbeda. Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada pada 16 November 1905 sepasukan Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya, Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak.

Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan Tjoet memang tak bisa berbuat banyak. Rencongpun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya, Tjoet tertangkap dan dibawa ke Banda Aceh lalu dibuang Sumedang, Jawa Barat.

29 Tanggapan ke "Cut Nyak Dhien; Sebuah Akhir di Tanah Sepi"

cermin wanita perkasa!!

hal hal kepahlawanan wanita ini yang bisa menjadi counter bagi issue issue kesetaraan gender di negeri kita.

saya pernah beberapa kali mengunjungi makam dan rumah tinggal beliau waktu ada kegiatan di Sumedang….FIGHT FOR FREEDOM…

Agung Prasetio

waktu saya lihat pameran foto perang Aceh di meseum Banda Aceh….saya temukan espresi kemarahan mendalam pada foto Cut Nyak Dien….perhatikan tangan beliau….

wah bang minta izin ngopy ya……:)

TJOET NYAK DHIEN, WUJUD DEMOKRASI DAN GENDER INDONESIA PADA ABAD KE-18

Keberanian beliau melawan penjajahan Belanda memang patut kita acungkan jempol. Abad-18 di mana kebudayaan & teknologi Indonesia masih di level minus, ada seorang perempuan Indonesia yang berani menentang bahkan melawan perang kepada Belanda yang telah memiliki teknologi dan peradaban hanya dengan sebuah rencong.
Tjoet Nyak Dhien, bukan hanya wujud heroik perempuan Indonesia tetapi juga merupakan wujud demokrasi dan persamaan gender. Mengapa? terlepas beliau sebagai anak bangsawan, terbukti bahwa dia –sebagai perempuan, berhasil memimpin kaum laki Aceh –yang notabene beragama Islam dengan ajaran2annya untuk perang melawan Belanda.

Apakah itu tidak berarti bahwa di balik ketertinggalan peradaban dan teknologi pada abad ke-18, Indonesia telah mengenal demokrasi dan persamaan gender walau saat itu kita belum mengetahui arti dan makna demokrasi dan gender itu sendiri.

[...] Januari 28, 2008 ยท 6 Tanggapan [...]

Cut Nyak dhien…jasamu tak akan kami lupakan…

copy gambar cut nyak dhien yappppp!!!!!!!

Subhanallah….
Makin kagum aja aku sama sosok Tjut Nja’ Dien ini. Semoga Allah menempatkan beliau di surga-Nya sebagai tamu agung. Amiiiin…

Mohon izin copy di blog aku ya.. Terimakasih… :D

cut nyak dien kau penunjang nilai sejarahku
please kirim semu beritamu ke rumah ku

Sungguh mengagumkan seorang dari pejuang dan wirawati rumpun Alam Melayu. Sikap dan semangatnya wajar dicontohi oleh ganerasi Alam Melayu abad ke 21

Izin nyedot gambarnya ya… Dari mana tuh sumbernya.

jika nasionalisme rakyat indonesia layaknya “The Queen of Aceh Batlle”, indonesia tidak akan pernah di bawah bendera negara manpun.
semoga semangat cut nyak dien ada di hati kita, aminnn…

Kami punya Women’s Aceh Explorer(WAE)
Dan kami coba tanamkan merah semangat Cut Nyak Dhien sebagai semangat dan keberanian WAE.
Tetap mencintai Alam dan Budaya aceh adalah cita-cita kami.
Semoga masih ada perempuan-perempuan aceh yang masih memiliki semangat Cut Nyak. Amin…

Tolong di agkat ebih banyak yakisah2 sejarah aceh terdahulu

kereen abiiis wanita beriman yang
tangguh membela negara bangsa dan agamanya

terima kasih ibu, telah berkorban jiwa raga mengusir penjajah. Entah jadi apa kami jika tak ada ibu yang berjuang dulu

yoi aja deh, ternyata gtu ya klo pahlawan di asing kan tuh, cara perlakuan di asingkannya

mantap..sun..
kemarin2..aku donlod film Cut Nyak Dhien..pemainnya Christien Hakim..sutradaranya Eros Djarot…
wuiiih…terharu..merinding nontonnya..apalagi dengan sentuhan musik dari Idris Sardi….

Taremong Geunaseh Ma loen, gata kah Geubrina Merdeka but Ureng Indonesia Bandum, Loen cuma jeut berdoa ke Allah supaya arwah Gata ditrima di sisiNya. amiin, tapi Uloen kah injak Tanoh kelahiran Gata, jade uloen lebeh cinta & Bangga lom keGata… dari Aripin Orang Sumedang tea

wanita pembela agama!!!

wanita yang sangat luar biasa

Cut Nyak Dhien adalah satu tokoh yang begitu kubanggakan ^_^
artikelnya bagus ^_^
bangga jadi anak aceh ne daku
salam kenal yah

Mudah-mudahan di era globalisasi seperti sekarang ini lahir kembali sosok-sosok perempuan pemberani sampai ajal menjemputpun beliau masih berjuang di Asma-Mu ya Allah…..Subhanallah..

Dialah Kekasih ALLAH SWT

Tinggalkan Balasan

SalamSapa

…dan matahari…

adalah cinta yang tidak pernah berakhir. dialah awal dan keakhirannya

SalaMualaikum

  • 20,059 Pengunjung

SalamPenanggalan

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031