Salamatahari

CeriTa

Posted by: salamatahari on: Januari 18, 2008

Ta.

Ketika kau bilang matahari, bulan dan bintang telah kau tetapkan garis edarnya aku langsung sepakat. Karena itu memang memang khalammu. Tapi, eiiit nanti dulu. Tak sepenuhnya sepakat ding. Karena sebenarnya ada sejuta tanya padamu. Setidaknya pertanyaan tentang dimana peranku dalam semesta yang taken for granted itu? Apakah yang olehmu tidak dapat kuubah setidaknya dapat kutambah titik atau komanya?

Ta.

Ketika kali lainnya kau bilang aku bisa mengubahnya aku juga sepakat denganmu. Tapi sampai sejauh mana aku dapat mengubahnya? Jangan-jangan janji perubahan dan iktiar itu hanya lips service, agar kau nampak lebih demokratis? Ah, dengan segenap rasa aku selalu terdiam bergelut tanya dan memilih meresapi hamparan makna sajadahmu diam-diam. Aku berjalan tanpa tujuan. Memberi jejak disetiap yang kulewati kemudian memancangkan sebuah tekad di dalam hati. Semua tidak ada yang pasti. Yups, kepastian yang ada adalah ketidakpastian itu sendiri.

Ta.

Berteriak padamu adalah kesia-siaan. Bahasa kita telah bermakna perbedaan dan disisi yang lain segala kuasa selalu menjadi milikmu. Walau malu, tanpa keyakinan kucoba menarik jubahmu. Rupa-rupa tanda jasa tersemat disana, kasih sayang, keadilan, kekuasaan, juga segala perintah dan ancaman. Mestinya kubaui wangimu, bukannya malah bersembunyi dalam bayang malam atau keentahannya sambil berharap jatuhnya tetes-tetes pengetahuanmu untuk menghilangkan dahaga akan kebenaran itu.

Ta.

Kau pasti tertawa melihatku yang bagai kanak-kanak berlatih membaca. Ya, itu karena aku selalu terbata dalam membacamu. Walau selalu kucoba menghembuskan namamu dalam setiap helaan nafasku, berjalan dengan kakimu, melihat dengan matamu, mendengar dengan telingamu lalu mencoba berbicara dengan hatimu. Tentunya itu karena samuderamu selalu memukauku. Bagiku kaulah maha sutradara dalam lakon kehidupan. Ah, sayangnya kau selalu menganggapku tak lebih dari anak-anak ya? Karenakau selalu memonopoli kebenaran dan menjadikannya kemutlakkanmu. Dan sialnya segala salah kau bebankan menjadi bagian dari diriku? Hingga akhirnya kelelahanku membuat kita bersimpang jalan. Kau tetap dilangit, tak tergapai, dan aku dibumi dengan segala carut marutnya.

Ta.

Setelah perpisahan yang menyakitkan, kini aku ingin kembali dengan seikat doa dan berkarung-karung cinta berbungkus harap. Memegang tanganmu dan mencoba mengikuti alur penamu dengan kesadaranku. Dengan secawan kata-kata madu dan sepiring rayuanku mari duduk disampingku. Kita berbicara lagi dengan bahasa dahulu yang saling kita mengerti. Aku tahu kau mendendam kepadaku setelah malam-malam kulewatkan tanpa menghadirkanmu. Tapi apa kau pikir kau saja yang mendendam? Kau tahu? Akupun demikian.

Ta.

Setelah dirimu digunakan untuk mengikat kaki dan menutup mulutku, aku mengasah taring untuk itu. Lihatlah Ta, dijalanan orang-orang berteriak mengancam atas namamu sementara dari kegelapannya mengalir berduyun-duyun para pengantin menjemput sorganya. Ya, sorga yang dijanjikan lewat jalan pintas. Semua itu diam-diam tentu saja menggores luka dan membekas selamanya. Berbalut liur bisa menjadi racun atau malah menyembuhkan. Sejak itu pujian tidak lagi menerbangkanku, cacian juga tidak menghempaskanku.

Ta.

Aku berpaling dari wajahmu yang kaku dan menundukan diri dikakimu yang menyentuh bumi. Yups, bukan pada kaki yang mengakar dan berjejak darah dari padang gurun pasir sialan itu. Kau ditanah inilah yang memikatku. Memikat karena kepengertian dan kesabarannya. Juga karena kau lentur dan luwes ketika tumbuh ditanah gembur ini. Itulah kau yang kucinta Ta. Yang ada sekaligus tak ada. Yang rela kuelus dan kusetubuhi semua pahit dan madunya sepanjang langit masih bisa selalu kujunjung.

 

10 Tanggapan ke "CeriTa"

lho..kok aku jadi yang pertama ya? wah…seumur2 baru kali ini lho..wkakakakakaka…

Setelah dirimu digunakan untuk mengikat kaki dan menutup mulutku, aku mengasah taring untuk itu..mo jadi drakula ya num?wkakakaka..

ini teh puisi atau prosa..?
muantaaap.

tambah lagi pertanyaannya :

Apa betul sorga dan neraka itu ada..?
Apa ia bidarari itu seperti yang dibayangkan dan didambakan..?
*bagiku semuanya itu baru katanya*

*ho.. oh kayanya dilihat dari tulisan hanum akan segera berubah jadi Drakuli.
hihiiihi…..*

*ngeliatin Ta*

Lah, kok Ta nya berubah rubah ya? Kadang lembut, kadang keras, kadang bijaksana , kadang murka. Hem apa karena maha segalanya atau karena plin plan ya?

*pergi dengan santai*

apa artinya bahwa sebenernya yang dimaksud diatas itu adalah bahwa sesungguhnya Ta itu.
*tambah gak ngerti kan hihihi* :P

Ta
dalam gelap aku tak melihatmu
dalam terang juga aku tak mampu
dalam kata aku membacamu

LAm kenal :-)
Ceritanya mbak bagus, sebuah “pembrontakan” rasakah? atau usaha mengurai segala yang ada?

Ta….
dari semua wujud dan gaib yang telah menjadi “cerita” cobalah kau rentang seberapa panjang!!!… mampukah kita mengukurnya???? apakah ’satuan” yang cocok untuk “membilangnya”????? … Ta,,, jawablah!!!! dan rasanya tak ada jawabannya!!

Ta…. aku sempatkan memotong waktu untuk bisa bertemu,,, menyetubuhi dalam laku sajadahmu!!!

:)

bukan hanya mahasutradara tapi juga pelakon yang maha hebat pula dengan segala liukan ekspresinya yang kadang kita makin tersudut dalam menonton aksinya..

satu pertanyaanmu mendatangkan seribu jawaban.
satu jawabanmu membawa seribu pertanyaan.
diam !
tetaplah berjalan dipadang semesta.

Kelak seluruh batasan itu akan berhenti tepat di pangkuannya.

Tinggalkan Balasan