Kisahnya; Mengenang 3 tahun Tsunami Aceh

Bertemu dengannya di suatu siang. Dia menggunakan baju kaos biru langit lengan panjang dengan garis hitam dan jingga di bagian tangannya. Baju yang memiliki sejarah besar dalam hidupnya. Sejarahnya dimulai pada hari itu. Tanggal 26 Desember 2004 .

Pagi Minggu itu di lapangan Blang Padang terlihat lebih ramai dari biasanya. Ada sebuah hajatan yang diselenggarakan sebuah Instansi. Tentu bertambah ramai dengan dengan para pesenam pagi yang memang selalu datang di setiap pagi minggu itu. Dia bersama kakaknya tampak berjalan santai di sekitar lapangan. Masih menggunakan mukena lengkap dengan kain sarungnya. Sehabis shalat subuh di mesjid Jamilah mengajak kakaknya untuk berjalan-jalan sejenak. Hanya sebentar, karena si kakak harus menyiapkan sarapan untuk suami dan ketiga anaknya dirumah. Dalam perjalanan si kakak berguman “banyak sekali toko di bangun tinggi, seperti mau kiamat saja”. Tak tahu harus berkomentar apa, dia hanya diam saja. Dalam kitab kuning yang mereka pelajari di pengajian, tengku (baca: ustadz) sering mengungkit tanda-tanda kiamat adalah dengan makin banyaknya dibangun gedung-gedung tinggi. Entahlah.

Sesampai dirumah dia hanya bersantai dengan adiknya yang juga tinggal di rumah kakaknya itu. Sambil mendengarkan lagu dari radio dia memilih berbaring di tempat tidur dan si adik memilih berbaring di lantai. Tak lama kemudian dari pintu terlihat wajah si kakak terlihat sedih. “semalam kakak bermimpi kamu melahirkan Jem” sambil lalu menangis. “mimpi seperti itu pertanda buruk” sambung sang kakak. Yang disebut Jem adalah Jamilah, juga ikut menangis. Masih dalam diam tiba-tiba bumi berguncang. Bagai duduk diatas ayunan. Pusing dan menakutkan karena lantai menjadi bergelombang. Susah berjalan dengan normal saat itu. Jamilah, adik, dan kakaknya lari berhamburan ke luar halaman belakang rumahnya. Diikuti suami dan kedua anak kakaknya yang sedang menonton tv. Mereka saling berpelukan dan menangis namun di bibir terus berucap asma Allah. Saat itu banyak suara tangis di sekelilingnya. Bumi lalu sedikit mereda.

Di dalam rumah, barang-barang hancur bagai kapal pecah. Tidak ada barang yang masih berada di tempatnya. Walau gempa itu mereda tapi semua tidak ada yang berani masuk kerumah. Tiba-tiba pagar berguncang keras. Kembali mereka mengucap asma Allah dan berpelukan. Ternyata itu adalah ulah seorang tetangga yang mengguncang pagar agar terlihat seperti gempa. Menakut-nakuti. Lalu dari arah barat seorang anak mendayung sepedanya dengan kencang dan terburu-buru. Mukanya pucat. Saat ditanya dia tergagap-gagap menjawabnya.

“Ada air…air…”

“air apa?”

“Air banjir”

Tanpa komando mereka masuk kedalam rumah. Mengambil benda-benda yang dianggap berharga. Jamilah juga langsung teringat akan ijazah-ijazahnya yang dahulu tidak terselamatkan saat banjir besar kemarin. Maka barang itulah yang didekapnya. Saat berlari keluar dia bertabrakan dengan kakaknya. “apa yang kamu bawa?” Jamilah menunjukan berkas-berkas itu kepada kakaknya. “Buang itu, ambil al-quran”. Jamilahpun menuruti kakaknya, lalu mengambil al-quran saku miliknya dan mencampakkan berkas itu. Lalu berlari keluar rumah. Mereka berniat mengungsi. Diluar terdengar sangat ribut. Orang-orang berlarian tidak tentu arah. Suara tangis anak-anakpun menambah kepanikan. Belum lagi teriakan yang mengatakan air laut naik membuat mereka bertambah bingung saja.

Di barat terlihat dinding hitam setinggi 5-6 meter dengan suara gemuruh mendekat. Lari. Itu saja yang ada dalam pikiran mereka. Jamilah terpisah dari keluarganya. Dia memilih berlari kearah selatan karena arah utara sudah terlalu penuh dengan orang yang berlarian juga. Itulah terakhir dia melihat adik, kakak, ipar dan ponakannya. Jalan diselatan buntu. Jalan satu-satunya yang biasa digunakan sebagai jalan tembus adalah seluah lorong sempit seukuran tubuh orang dewasa. Jamilah terus berlari sambil mendekap al-quran. Namun terlambat buat menyelamatkan diri. Air itu sudah sangat dekat.

Dalam diam itu, air mengambil alih setiap gerakannya. Disebelahnya seorang tetangga yang seumuran dengannya juga terlihat pasrah. Mereka bergandengan terjebak didalam lorong itu. Sang tetangga terlihat begitu pasrah lalu menutup matanya. Sedang Jamilah panik dan memanggil nama si tetangga itu. Tapi sepertinya jamilah juga harus pasrah. Kini air itu sudah menenggelamkan mereka berdua. Hitam dan bau. Semua bau bercampur aduk. Bau minyak tanah sangat kuat. Belum lagi bau kotoran hewan. Masih terus saling bergenggaman, Jamilah berusaha untuk naik kepermukaan. Sia-sia. Karena arus air yang kuat genggaman itu lepas juga. Ajaib, Jamilah tiba-tiba tersembul keluar ke permukaan air. Seluruh tubuhnya dipenuhi minyak dan bau. Jamilah terbawa arus tidak jauh dari tempatnya tenggelam tadi.

Walau tidak bisa berenang, Jamilah coba bergerak menuju tempat yang bisa menahannya dari arus air. Sebuah kanopi dari jendela sebuah rumah bertingkat di raihnya. Sangat kontras dengan keadaan sebelumnya, saat itu sangat sunyi dan tenang. Terdengar suara tangis bayi, namun tidak terlihat wujudnya. Ucapan Lailahailallah Jamilahpun seakan menggema. Lalu mulai bermunculan mayat-mayat mengapung di air. Beberapa diantaranya Jamilah mengenalnya karena masih tetangganya. Sebagian yang lain tidak dikenali karenabentuknya yang sudah tidak sempurna lagi. jamilahpun mengalami luka dibagian tubuhnya karena bergumul dengan benda-benda di dalam gelombang itu. Dia patut bersyukur karena semua bagian tubuhnya masih utuh.

Ternyata setelah gelombang pertama itu, kemuduan diikuti gelombang kedua walau tidak begitu kuat. Dan saat air surut maka turun dari atas kanopi jendela di tingkat dua menjadi masalah lain lagi. Tumpukan kayu, tembok, besi dan entah benda apa lagi membuat lambatnya jalan menuju tempat yang lebih aman. Belum lagi teriakan-teriakan bahwa air akan datang lagi membuat panik saja.

Siang itu sangat panas. Jamilah beruntung masih dengan memiliki pakaian lengkap walau sudah tergulung air hitam itu. Karena disekelilinga orang-orang lain yang selamat maupun meninggal terkadang hanya berbaju atau bercelana bahkan ada yang telanjang.

Jamilah teriangat akan keluarganya. Dengan bertelanjang kaki Jamilah menuju mesjid Raya Baiturrahman. Disana dia mencari informasi tentang keluarganya. Kakak, adik, abang ipar dan ponakannya. Setelah bencana tsunami itu mereda keluarganya pun tidak ditemukan bahkan mayatnya sekalipun.

Kini hampir setiap tahunnya di tanggal 26 Desember dia menyempatkan diri berziarah dibeberapa kuburan masal di Banda Aceh. Perjuangannya melawan tsunami belum berakhir. Karena dia harus dihadapkan kepada hilangnya keluarga yang menaunginya selama ini serta tempat tinggal yang sudah rata dengan tanah.

* * *

Bagaimana wajah-Nya menurutmu waktu itu? apakah seperti kata dia? atau kau punya pendapat sendiri?

11 Tanggapan ke “Kisahnya; Mengenang 3 tahun Tsunami Aceh”

  1. sudah 3 tahun berlalu, tapi sewaktu membaca ini gw masih gemetar membayangkan bencana itu num!!!!.

    berharap menjadi guru bukan untuk mengenang sesuatu yang membuat trauma.

    salam untuk jamilah, semoga keluarganya di berikan tempat terhormat. dan jamilah mendapat kelurga baru yang menyayanginya!!

  2. hikmah.. hikmah.. hikmah..

  3. mengenang 3 tahun tsunami aceh. ternyata bencana ini menjadi bencana terbesar ke7 sejak abad ke 10. diperingati juga di negara2 lain yg mendapatkan musibah tsunami yg sama kemarin

  4. setiap teringat melihat bencana ini di TV saya selalu bergidik ngeri. saya sedih karena tangan saya ini pendek sekali. tidak bisa memberi bantuan apa2 terhadap para korban di bumi aceh. cuma sedikit uang dan doa :(

  5. semua emang merasa terenyuh melihat bencana yang maha dasyat di aceh 3 tahun lalu…masih keinget ganti2 chaenel tv saat gempa dahsyat itu. tapi itulah kuasa yang diatas …apapun kehendaknya bisa saja terjadi.

  6. num..makasih byk ya.. moga jem slalu diberi ketabahan dlm menjalani hdp ni…
    anum jg ya…
    jgn pernah menyerah…
    jem akan slalu ttp mjd teman anum…
    always keep our friendship..now n 4ever yach…
    thanks a lot anum ya…

  7. tak terasa udah lama peristiwa itu berlalu.
    untuk sahabatku mufti, semoga sukses program perbaikan yang sedang engkau lakukan disana.

  8. untuk semua teman-teman di NAD, tetaplah semangat jangan pernah berhenti untuk tetap melangkah maju.
    Habis gelap terbitlah terang.
    Keep faith….!

  9. wuuuuih….Tsunami..banyak sisi yang bisa di hikmah kan……

    * i’m wake up now ;-)

  10. Entah harus bersyukur atau harus menyesali diri karena tidak dapat merasakan langsung apa yang dialami Jamilah. Seharusnya aku bersyukur ya? karena sempat menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi dan tidak sempat melihat dahsyatnya gerakan gelombang tsunami itu.
    aku meneteskan air mata membaca postingan ini dan bergetar kuat menahan jatuhnya air mata…

  11. yup..pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya..

Leave a Reply