Posted by: salamatahari on: November 14, 2007
Seiring senja yang melenyap. Bulan dan bintang datang tergopoh membawakan cerita. Tentu saja cerita tentang keindahan dan wewangian daun dalam tempayan. Tapi itu dulu, ketika sungai masih mengalir madu dari keringat bidadari.
Sekarang indah dan wangi nya menjadi bau busuk dan sampah menjijikan. Sungai mengalir air mata. Dan bidadari telanjang mengintip dari surga.Ya, ditanah ini keindahan malam telah lama dirampas oleh waktu dan keserakahan. Waktu berhenti tumbuh dewasa disini. Dan tangan-tangannya lewat begitu saja tanpa menyapa.
“Bulan kemarilah kau. Dengarlah desaunya. Dan kau bintang duduklah disini dipangkuanku. Setubuhi malam tanpa tanya dan nikmati khianatnya. Bagaimanapun biar bimbang lupa dan kalian bisa bebas memahami” ujarku pada bulan dan bintang.
“Dan kau burung malam terbanglah. Kembalilah kelak setelah kau jelajahi duniamu. Bangunlah sarang abadi dan menetaplah bila kau bosan terbang”
Burung malam yang kusapa menatap tak perduli. Sayapnya yang menghitam jelaga bergerak-gerak pelan. Matanya setajam belati menusukku, menelanjangiku dan paruhnya yang terbuka berkata.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau waktumu adalah pedang dan pena. Buatlah mereka menjadi bermakna dan tebaslah, ya tebaslah semua aralnya.”
Tentu saja kata-kata si burung malam mengagetkanku. Entahlah. Mungkin dia benar. Tak berguna rasanya pencarian tanpa pedang dan pena. “Aku bosan memandang langit. Menatap senja lalu membiarkannya lewat dan hanya menyisakan kemarahan”
Kulihat si burung malam tersentak. Gerak tubuhnya pelan mengalihkan pandangannya dariku. Senyap merajai. Sepi menyergap dan pendarnya memenuhi kekosongan langit.
Ketika seekor kunang-kunang melintas serta merta burung malam itu melupakanku. Ya, tanpa permisi dia terbang mengejar kunang-kunang itu. Sayap-sayapnya menembus dan menumbuki bukit-bukit, laut-laut dan belantara. Hingga saatnya si burung malam jatuh terkapar tak berdaya. Keningnya berdarah. Dia hancur lebur.
Lamat-lamat masih kudengar bisiknya. “Jangan kau nyenyakan tidurmu bersiaplah, mereka akan datang”
Aku tergeragap, berpeluh dan berkeringat. Kupungut serpihan burung malam. Kukumpulkan satu-satu kepingnya dan kususun ulang sosoknya. Lalu kutiupkan nyawa. Dan ajaib!! Burung malam tetap tak bergerak dalam tidurnya. Hanya senyum yang melekat. Sisanya darah dan lebam disekujurnya.
Dimana aku? Aku dimana? Masihkah aku bagian dari kekekalannya? Ah, ternyata aku. Masa-masa jaya sakti itu telah lama lewat .
Aku yang setengah tertidur akhirnya sepenuhnya bangun. Beranjak keluar menuju halaman. Dihalaman, sambil berjingkat kupergoki malam bersetubuh dengan gelap tak peduli pada hadirku.
Tiba-tiba sebuah cahaya menerjang membabi buta. Menyeretku dalam pusaran dan memingsankanku. Samar-samar aku melihat tubuhku terbaring di pematang. Aku terus terbang. Terbang dan terbang semakin tinggi menembus lelangit bumi.
“Aku haus” Mohonku pada sosok agung dikursinya. Sayangnya kesadaran selalu terlambat datang. Tubuhku diseret penjaga dari pematang dan dilemparnya pada kemegahan. Nasibku sama seperti burung malam.
Pertolongan yang kuharapkan datang tak pernah menjelang. Yang kemudian menerjang malah sepasukan tentara, sekabinet menteri yang sekonyong-konyong berdiri tanpa kutahu darimana datangnya. Masing-masing mereka tangannya memegang gelas. Gelas indah itu seharga kepala seorang buruh pabrik yang berisi keringat, darah bahkan berisi air kencing.
Kuambil gelasnya “Aneh kok rasanya manis?” tanyaku menggantung. Kau di kursimu menggeleng pelan. Aku lebih baik menyerah.
Kuambil lagi segelas keringat itu, kuminum lagi. Rasanya tetap manis. Aku tergilai oleh sensasi itu. Kuambil lagi segelas. Segelas lagi. Dan lagi.
Pedang ditangan ku !!!!
Tanpa kusadar kemegahan gedung indahmu menipu. Ribuan orang bunuh diri. Sementara ribuan lain menjadi yatim dan jutaan sisanya berubah menjadi belatung. Dan sepanjang mata memandang yang terlihat hanya orang berkerumun. Sebagian menghitung mayat. Sebagian lagi sibuk mencari tempat yang datar atau sungai untuk mati.
Pedang ditanganku !!!
Aku terlambat menyadari pedang di tanganku menimbulkan bencana. Sungai mengering, gunung terkoyak dan belantara berubah menjadi gurun yang senyap. Api meyembur dari mulutku dan mataku menumpahkan darah kemarahan.
Bulan, bintang dan burung malam menangis diam-diam.
kasihan siburung malam!
burung malam belum menemukan tempat menetap. tapi saya merasa burung malam akan terus mengepakkan sayap!!
num,,, terbesit dari mana?
bahasanya melayu tinggi, heheheh!!
salutt!
sang bidadari yang berkeringat madu itu sudah berganti bau busuk ?? belom mandi tuh kayaknya..
*kabur… disambit sendal*
Pedang ditanganku !!!
Aku terlambat menyadari pedang di tanganku menimbulkan bencana…
mau ngrampok ya mbak..huahahaha..
*ikut kabur yur…*
Waduh … nyaman bahasa dikau dalam gelegar semnagt inti diri … Pedang berbaju damai …
November 14, 2007 pada 8:08 pm
Pertamax aja deh, soale bingung mo komen apa.
*berusaha menyambung rasa*