Salamatahari

Mangalo berganti Akasia

Posted by: salamatahari on: November 9, 2007

Bangun tidur, pagi-pagi benar. Ufh.. hidung mampet sisa flu semalam masih mengganggu. Nafas juga satu-satu terasa berat, belum lagi batuk yang belum sepenuhnya cabut. Ah, tetapi, Alhamdulillah, masih bisa flu dan batuk, rejeki toh. Setidaknya, jadi punya alasan untuk bermalas-malas ria.

Belum, lagi beranjak dari kamar hp berdering-dering. “Assalamuaikum, Ao” Suara dari seberang mendahuluiku mengucap salam. Kujawab salamnya, dan langsung kuberondong pertanyaaan. “Gimana khabar, napa nggak telp, napa hp mati semalam, katanya mo OL, etc..etc..”

Hi.. kubayangkan keningmu pasti berkerut, tersenyum dan pasti sambil merutuk. “Satu-satu dong pertanyaannya”

Ah, kemudian mengalirlah ceritanya, tentang Riau, Orang pedalaman, illegal logging, RAPP, Indah Kiat, Sukanto Tanoto, Eka Tjipta hingga Rusli Zaenal.

“Setiap 10 detiknya, hutan alam seluas lapangan bola ditebang di Indonsia” Ujarnya mengutip sumber dari sebuah LSM lingkungan.

Wah-wah, hutan seluas lapangan bola hilang hanya dalam 10 detik? Whueks…
“Bener niy, yakin lo?” ujarku setengah tak percaya.

Kudengar lamat-lamat kamu hanya tertawa, “Nulis illegal logging di blogmu ya, tar aku kirim bahannya” ujarmu malah main perintah.

Waduh, bukannya dapat ciuman malah dapat kerjaan niy..hi.. hi… “Ya deh, aku coba ya?”

Beginilah akhirnya aku menulis, “pesanan itu” :

“Beberapa tahun lalu, Mangalo mudah ditemukan, diantara alang-alang atau di semak pingir kali. Beda dengan sekarang, kaki pegal-pegal menjelajah seluruh hutanpun ubi Mangalo tak ditemui” Ujar Sanai seorang warga sebuah desa terpencil di kawasan kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak sekitar 100 kilometer di timur laut Kota Pekanbaru, Riau terlihat serius.

Gurat kesedihan diwajahnya, terlihat senada dengan suasana rumahnya yang sepi dan ngelangut. “Kita tanam Mangalo, yang tumbuh hanyalah akasia.” tambahnya kemudian. Ya, Mangalo yang disebut Sanai sejatinya sejenis ketela pohon yang biasa tumbuh di antara ilalang tinggi. Si Mangalo ini, sebenanya adalah jenis ketela pohon yang beracun. Walau beracun Sanai dan sebagian besar warga Sakai, sudah terbiasa memakannya.

Sanai memang pantas kecewa. Bagaimana tidak, hutan yang turun-temurun menghidupinya musnah. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan luas, tanah lapang yang tak menyisakan satupun pohon berdiri tegak. Di beberapa tempat, yang terlihat hanya tumpukan-tumpukan kayu menggunung menunggu diangkut.

Ya, belakangan barulah Sanai tahu kalau area hutan sekitar kampungnya itu sudah dimiliki oleh Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) anak raksasa perusahaan bubur kerta Asia Pacific Holdings International Ltd. (APRIL), milik taipan hitam, Sukanto Tanoto. Yup, RAPP tidak sekadar menebang hutan gantungan hidup Sanai untuk diambil kayunya saja, tetapi sekaligus menyulap kawasan tersebut menjadi hutan Akasia sebagai bahan baku pulp and paper miliknya.

Lahan tadi, tak lain merupakan bagian dari lahan RAPP yang memanjang dari kabupaten Pelalawan di Timur ke Siak di Timur laut hingga mentok di Pulau Padang, kabupaten Bengkalis di Utara. Lahan seluas 215.790 hektar itu oleh RAPP dibagi menjadi Blok Serapung (150.920 hektar) di kawasan Pelalawan dan Siak, serta Blok Pulau Padang (64.870 hektar) di kawasan Bengkalis. Masalahnya kemudian, ditengarai…..”

Whuek… cepe deh, kalau mau baca lebih lanjut tentang Ilegal Logging mending baca, disini, disini atau disini oleh-olehnya dari Riau.

13 Tanggapan ke "Mangalo berganti Akasia"

feretamaxx!!!
feremium..!!!
zholarr…!!!
wueks….

bikin banner Stop Illegal Logging dong :D
nanti saya pasang di blog saya juga

gak ngaruh!!!
gw gak nafsu jadi pertamaxxx,, whueekkkksssss

RAPP,, mengingatkan aku di saat melamar kesana gak lulus>>>> hi hi hi

dasar tukang tebang, gak mau bagi hasil lagi!!!

ntar gw training deh si penebang itu, selama 3 bulan jadi orang miskin yang tinggal di tepi rela KA ato pinggir kali, kalo lulus dia pasti gak akan menebang lagi, setidaknyakl menebang akan membagi hasil untuk rakyat.

Pabrik pulp memang sangat rakus memangsa hutan. Hutan di danau toba juga habis akibat kelakuannya.

Apa sebaiknya di temukan aja pengganti kertas ya?

jos gandos endonesa..

*speechless liat komen ke 1*
wkakakakakaaaa…

sedih membayangkan Indonesia dua puluh tahun ke depan..semoga tidak menjadi padang pasir, Tandus, kering dan gersang.
Masih menunggu political will permerintah terhadap masalah hutan ini.

hukum endonesa memang…. *sigh*

salam kenal dari sayah :)

Riau.. Nasibmu mirip Palembangku.. :(

Kalau nunggu political will pemerintah mungkin hutan kita sudah keburu habis kali.. saya salut dengan gerakan Greenpeace di hutan Sumatera ini.

huh huh Hutan ku sudah gundul..
pasti penghuni hutanku sangat sedih..
semua harus bertanggung jawab atas semuanya….
> ayo..jgn biarkan “mereka-mereka kesepian” karena kesepian mereka musibah buat kita2 semua ……

Lagi2 hutan logging… susah amat di berantasnya? “__”‘

Well, mudah-mudahan upaya untuk “menghabisi” Illegal Loggers itu dari aspek tax law bisa berbuah manis.

PS: izin add link ke blog-nya ya.. Thx.

Tinggalkan Balasan