Salamatahari

Usai Kedua Kita, Ta

Posted by: salamatahari on: November 7, 2007

Pernahkah kau ketika sedang terjaga, malam menghampirimu dengan bayang-bayang dan jubah kegelapannya? Ya, jubah itulah yang kemudian menyelimuti jiwa dan alam pikirmu, hingga pelan tapi kau pasti merasa’i lehermu tercekik. Itulah yang aku rasa kemarin malam. Tentu saja waktu itu aku berteriak dan menjeritkan suara keras. Ta, kau tahu? Suaraku hanya memantul-mantul menjadi di keentahan.

Sebuah Kipas angin kecil di sudut kamar masih berputar kencang dan setia menyebarkan angin keseluruh ruang. Sesekali nyamuk melintas di dekat telingaku sementara malam mengalir lambat. Dekat PC yang tak bosan mendengung, gelas bening mematung. Isinya hanya air putih yang tinggal separuh. Kuteguk perlahan sisanya dan membiarkan sejuk nya merambat di tenggorokan.

Dengung itu Ta, merambat mendekapkan bayang-bayangmu pada sunyi bisu ini. Ah Ta, aku kangen suasana-suasana ini. Sendiri berbicara didepan cermin, monitor, HP, malam bahkan bintang. Benar-benar sendirian ternyata nikmat ya Ta. Dalam sendirilah aku mendapati jejakmu.

Kau mengingatkanku ketika menempuh jalan ini bersamamu, ketika malam berpendar dalam nyala mercurynya. Kau menggenggam tanganku erat dan mencoba mendekapkan jarak yang tak pernah terlintasi.

“Setelah sekian lama aku letih, Ta” ku bisikan sebaris kalimat itu. Selepas gaungnya melenyap, sepi merambat pelan sekali nyaris tak berasa. Rautmu jelas-jelas menyiratkan keheranan, tetapi tetap ada senyum itu dibibirmu. Ah, senyum itu Ta. Tahukah kau selalu senyum itu yang membuatku tak nyenyak melepasmu belakangan ini.

“Mungkin aku merasakan hal yang sama, letih. Tetapi letihku karena aku tak pernah paham akhir dari semua ini?” Suaramu masih sama. Mengalir datar dan menyisakan sebuah jeda disetiap penggalan kata-katanya. “Kita punya apa?”

“Tentu saja cinta. Tak cukupkah?”

“Dengan segala baju-bajuan sempit itu?” kau kembali bertanya.

“Setidaknya, ya!” Aku menjawab yakin, “Atau kau punya yang lebih?”

Ah, sampai disini semuanya berhenti. Waktu kembali ketitik nol dan semua film berkelebat dalam gerak lambat. Setelah sejauh ini, kita masih tak punya pegangan apapun. Setidaknya untukku Ta.

“Disetiap aralnya, kita temukan jalan baru untuk menghindar, berkelit atau sekedar memutar sambil terus mencoba menyiapkan kapal yang lebih besar dan lebih kuat lagi” Tentu saja aku memilih diam mencerna setiap patah katamu dan kalau bisa menelannya sekaligus tanpa tanya.

Tapi, setelah senyap memanjang, tak tahan aku menggugatmu “Apakah kita punya cukup waktu seperti Nuh, Ta?”

“Mungkin” ujarmu berbisik. “Mungkin kita akan kehabisan waktu, tetapi hanya kapal itulah harapan kita, atau jangan-jangan kamu memilih menjadi Qanaan yang menolak naik ke bahtera”

“Apakah kau Nuh itu Ta?” Tentu saja aku hanya mengujimu dengan tanya itu, selebihnya aku mendukungmu. “Dan kalau kau Nuh itu, aku yakinkan bahwa akulah Sam, Ham dan Jafits sebagai anak-anak yang berbakti itu”

Mendung menggelap di wajahmu, dan perlahan menjadi rinai gerimis. Aku tersedak oleh kenyataan Ta, kenyataan bahwa ternyata kita tak pernah mempunyai kaki untuk berpijak di bumi.

Kembali ku ingatkan kau tentang sang nahkoda yang pernah kugugat dimasa lalu. Suaraku tanpa ragu saat itu . Kulihat kau mulai tersenyum mengingat itu. Ta, maaf bila aku hanya memberikan kenangan padamu.

“Bila waktu tak mencukupi untuk menjadi Nuh, maka izinkan ulat itu menjadi kupu-kupu”

“Apa dia siap terbang?”

“Aku tak tahu”

“Apakah sudah waktunya?”

“Aku juga tak tahu”

“Apakah setelah kedua ini kita usai Ta?”

“Apa arti usai bagimu?” tanyaku lembut di telingamu.

Terlihat kini kau terdiam. Seolah mengerti maksudku. Ya, selalu begitu. Banyak pertanyaan yang tak butuh jawaban selama ini. Waktu berulang kali waktu membantu kita menjawab hampir semuanya.

Dan kini seolah membaca pikiran masing-masing. Kita bersepakat membiarkan sang waktu yang menyelesaikannya.

10 Tanggapan ke "Usai Kedua Kita, Ta"

fertamaxxx….
fremiummm….
zolarrrrrrrrr….
Whueks…

kalah kowe yur…walaupun daku ga pertamax..setidaknya masih minyak tanah..

Sendiri berbicara didepan cermin, monitor, HP, malam bahkan bintang. Benar-benar sendirian ternyata nikmat ya Ta. Dalam sendirilah aku mendapati jejakmu.

terkadang menikmati sepi..menikmati sendiri adalah hal yang mengasikkan..disana kita bisa menemukan jejak2 yang tercecer dalam suatu perjalanan hidup..

percaya jika…only time will tell

ada2 aja si mbak…
saya bukan pns Deptamben,.. cuman ditunggu disana setahun lalu,..
sayang nya ga lulus2, malah terdampar di yogya…

Dan kalo mau ditanya mau nya saya sebenarnya apa,..
“Punya usaha sendiri dan bukan jadi PNS”.. kakakka

eh salah ruang koment…

Maap…

Bila waktu tak mencukupi untuk menjadi Nuh, maka izinkan ulat itu menjadi kupu-kupu” >>>>> ada fase yang cukup berat disini, ketika ulat akan menjadi kupu-kupu, bagaimana dengan “kepompong” yang mengikat erat, mengurung “ulat” hingga terkungkung???

proses terbebas butuh waktu lintas batas!!

ga jadi komen… ketawa aja… wakakakakakaa.a…
(mpe guling2..)

ya Ta.. hanya waktu yang bisa menjawab kita ndak tahu menahu.. mungkin kita hanya bisa berencana saja..

“Pernahkah kau ketika sedang terjaga, malam menghampirimu dengan bayang-bayang dan jubah kegelapannya?”

pernyataan dan pertanyaan yang sangat puitis :)

Tinggalkan Balasan