Jogja; Susah Cari Inspirasi?

“Susah cari inspirasi?” suara dari TV mengabarkan iklan sebuah surat kabar, seolah telak menyindirku. Selain TV yang bawel yang suaranya hanya lamat-lamat sampai kamar, tak ada suara lain. Sunyi-menyunyi dikamarku hanya dengung CPU mendominasi.

Oups, maaf !! Aku melupakan rayuan si Katie Melua yang mendayu dayu dalam “Nine Million Bicycles”. Pelan dan senyap liriknya mengelus rasa di sekujur hati.

There are nine million bicycles in Beijing,
That’s a fact, It’s a thing we can’t deny
Like the fact that I will love you till I die.

Sejak berjam-jam lalu aku nyaris tak beringsut dari depan computer bercat gelap ini. Bahkan kalau dipikir lagi, sudah sejak sore tadi aku hanya terpaku didepannya. Yang kulakukan hanya mengetik beberapa kalimat, mendeletenya lagi, mengetik lagi, dan mendeletenya lagi.

Kesuraman bertambah saat kembali kuperhatikan ternyata dari UPS, CPU, loadspeaker dan webcam yang tersusun berdampingan di bagian kanan monitorku juga berwarna senada. Bagai mayat, aku ditatapi oleh mereka. Hanya “Sang ustadz” yang berpakaian putih. Mencoba menerjemahkan segala ketukan padanya dalam bentuk huruf-huruf di monitor. Ya, sang keyboard berwarna putih. Sedikit kusam namun lumayan bersih.

Sementara itu di atas meja tokoh Teto dalam novel klasik Romo Mangun, Burung Burung Manyar terlalu menggodaku untuk dilewatkan. Belum lagi El Filibusterismo-nya Jose Rizal. Selain mereka, ternyata aku baru nyadar masih hutang baca karya lawasnyanya Takashi, Zaman Bergerak. Menggelinding-nya Pram, Hutington, Frans Magnis, semuanya belum tersentuh. Duh… duh… naga-naganya bakalan mentog (pakai g) lagi niy acara tulis-menulis malam ini.

Sudah begitu, ayah juga bolak-balik men-interupsi dengan pinjam pakai computer semata wayang ini, dan mamak seolah bersepakat dengan ayah tak kalau sibuk dengan perintah ini-itunya. Tolong ngeprint lah, ketikin inilah, bikinin laporan inilah, itulah. Dan kau juga!! Tak putus-putusnya menyela dengan kalimat sama yang diulang-ulang, “Ao’ dah jadi belum tulisannya?”

Huh!! Entahlah, setidaknya begini…

Mengenang Jogya tentu aku akan ingat tentang malam dari stasiun Solo Balapan sampai stasiun Tugu dengan kereta api Prameksnya. Itulah awal aku menjejakkan kaki di Jogya. Keluar dari Tugu, langkah kaki berbelok ke kiri melintasi Pasar Kembang yang riuh, lalu belok kanan menyusuri Malioboro ke arah selatan.

Melintas Malioboro, aku kembali teringat Teto, lakon utama dalam Burung-burung Manyarnya sang Romo. Bajingan KNIL yang lembut itu mesti jalan kodok untuk sampai Gedung Agung dalam aksi doorstootnya NICA.

Begini kisah si Teto kala itu ;

Setelah setengah jam merangkak dan lari dan merangkak lagi, aku sudah menggambil kesimpulan, bahwa sebetulnya kami bisa saja mengambil jip dan langsung pergi ke tugu, terus belok ke kiri ke Malioboro. Jus! masuk istana gubernur belanda yang sekarang dipakai Soekarno.(Burung-Burung Manyar, hal 100)

Ya, tak jauh beda dengan Teto, aku melintasi Malioboro juga dalam beberapa menit mengikuti semua jalan yang di lalui Teto saat itu. Di ujung Malioboro, tepat didepan Gedung Agung. Ingatanku kembali terbang pada peristiwa 19 Desember 1948. Terbayang olehku ekspresi Tuan-tuan Republik itu saat ditawan oleh Belanda.

Dalam Burung-Burung Manyar di lukiskan seperti ini

Mereka ( Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim dan para gembong Republik lainnya) ditawan oleh Kolonel Van Langen dan seharusnya tampak lesu dan takut dengan segala sikap yang sepantasnya bagi orang yang yang kalah dalam pertaruhan. Tetapi…

Disana aku melihat mereka malah tersenyum serba pasti. Seokarno tegak bersikap jaya. Yang bernama Hatta tampak tenang dan seolah-olah menunggu tanda berangkat ke Den Haag, atas undangan Sri Ratu pribadi dan Perdana Menterinya, untuk menerima piagam pengakuan Republiknya. Sedang Haji Salim yang memiliki mata yang cerdik dan hidup seperti mata anak sekolah, ia hanya kalem. Dan si Kancil Syahrir itu, seolah-olah segala wajahnya yang tersenyum itu berkata kepada semua orang: “Betulkan? Masuk perangkap kalian sudah”.

Seperti Teto, Aku juga tidak sempat menikmati Malioboro. Riuh rendahnya terlewat begitu saja. Di sisi selatan Vandenberg aku menyeberang sampai ke Alun-Alun Lor. Lalu memilih nyungsep di angkringan pojok alun-alun karena cacing-cacing di perut sudah mulai berontak. Dua bungkus nasi kucing, tempe goreng plus teh manis hangat langsung tandas.

Beres dengan urusan cacing-cacing diperut, SMS sepupuku si Ubiet kembali ku buka. Tercetak besar-besar disana, Jalan Menukan Gang Kepiting. Walah, bakalan gempor niy kaki kalau mau sok-sokan mengikuti gaya infantrinya Teto.

“Mas kalau Menukan, busnya jalur berapa ya?” tanyaku pada pemuda tanggung penunggu angkringan itu. Tak lupa senyum paling manis aku paketkan untuknya.

“Pakai jalur 15 mbak, tetapi baiknya mbak nyeberang lagi. Disana biasanya jalur 15 ngetem” jawabnya sambil menunjuk tempat yang barusan aku lewati.

“Makasih ya mas”

Dibawah mercury, ber tas besar nan berat serta kaki yang pegal-pegal aku tertelan Jogja yang mulai menuju malam. Lima menit, setengah jam hingga sejam lewat begitu saja. Dan si 15 belum juga nongol batang bisnya. Duh, alamat si Ubiet dah tidur manis niy.

“Menukan berapa pak” tanyaku pada bapak separo umur yang tengah bersantai di becaknya.

“Wolung ewu gangsal atus mbak, monggo” jawabnya cuek. Yups, tentu saja dia boleh cuek dengan bahasa jawanya itu. Toh, dijidatku nggak ada tulisan aceh totok yang tak bisa berbahasa jawa.

“Nggih, pak” nggih ini bukan berarti kesepakatanku. Tapi lebih karena nggih itulah, satu-satunya kosa kata dalam bahasa jawa yang kutahu artinya. Becak membelah dingin menyusuri Brigjen Katamso terus keselatan melintas Jalan Paris. Di pompa bensin Jogokaryan, becak berbelok kiri masuk jalan Menukan tanpa dengus lelah.

Yups, Jogja seperti yang kubayangkan memang mengalir lambat-lambat. Mengikuti setiap ketukan gamelan dari Gedung Agung. Dan berkenalanlah aku dengan wanita Jogya itu.

Sampai disini, aku benar-benar akan menjadi mayat bila tetap didepan komputer. Dan mereka akan mengiringiku bagai pelayat yang berpakaian serba hitam. Tapi Stop! Aku tuhannya. Biar mereka aku matikan sebelum aku yang “mati”. C U All…

15 Tanggapan ke “Jogja; Susah Cari Inspirasi?”

  1. Amankan posisi pertamax :mrgreen:

  2. He he, bapak-bapak tukang becak kadang sering pasang tarif 10.000 untuk diantar kemanapun :grin:
    Menelusuri Jogja, jadi ingat waktu masih sekolah, jam 11 malem berangkat ke alun-alun kidul untuk kemudian muter-muter Jogja.
    Masa-masa yang damai ….

  3. caplang™ Berkata

    susah cari inspirasi aja ngetiknya segini banyak…

  4. senada dengan Caplang…

  5. ya Juga yaaa.
    inspirasinya susah , hasil tulisannya banyak amat..
    gimana kalo ada inspirasinya yaaaaa…………
    heheheh
    pasti seru deh ceritanya…

    btw….dibukukan aja mbak tulisan2nya , biar rapi and bisa dikenang sepanjang masa……….

  6. kalau ini episode sebelum dipijit bu sarmi… waduh saya ngikutin terus episod demi episodnya… trus kapan novelnya diterbitkan mbak? :D

  7. setuju sama sayur

  8. mengAmini, caplang sayur dan artja

    gilee looo, sebanyak ini dibilang susah inspirasi

  9. Ini warning serius bagi pemilik pc berwarna gelap. Tapi gini jg, Num, mungkin karena tiadanya inspirasi, warna itu jadi sebuah perhatian. Ketika tangan sedang menari dalam ekstase, jangankan warna, itu komputer punya pribadi, perusahaan, atau negara, kita sering lupa.

    But see… bagaimana kayanya Hanum menceritakan saat-saat tanpa inspirasi itu. Susah aku membayangkan gmn pula akan Hanum kisahkan jam-jam penuh ilham itu.

    Hm, nada como el sol!

  10. oot
    kemarin JKT sekarang JGJ, jangan nerus ke blitar ya num…. kelud lagi gak enak badan…. :D

  11. Hmmm, kalo aku suka sego kucing, ceker ayam (bacem) dan teh anget manis. sedappp..

  12. wew,,…
    si mbak dari jogja melambung ke aceh,…
    saya dari aceh, terdampar di jogja..

    “semua kota sama dalam inspirasi…”

  13. hmm tentang becak, ya 10.000 ga pa pa. Hampir sama dengan taksi kok.

    Prameks? jadi ingat masa lalu. pernah satu kali naik prameks boleh berdiri di bagian depan dengan masinisnya. maklum, dulu waktu kecil pingin banget jadi masinis. tapi ga kesampaian.

  14. kapan ke Jogja lagi ?..mencari inspirasi yang hilang ??

  15. wah klo belum mampir ke warung kopi Josnya pak man ya belum abdol mbak!

Leave a Reply