Salamatahari

Tuan Presiden; Rinduku Padamu

Posted by: salamatahari on: November 4, 2007

Ketika dilantik menjadi mahapatih di Majapait, Gajahmada dihadapan Tribuanatunggadewi mengucapkan sumpah, kelak sumpah itu di kenal dengan sumpah palapa.

“Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa; lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

Dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih begini;

“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat” (Munadar, 2004:24).

Sumpah Palapa inilah, yang kemudian di jaman modern di beri konteks nasionalisme dalam kongres 28 Oktober 1928. Konggres pemuda itu kemudian menelurkan Sumpah Pemuda, sebagai salah satu bentuk perlawananan terhadap kuasa kolonial Hindia Belanda kala itu.

Tujuh puluh sembilan tahun berselang, di Hall D1 Jakarta Expo Kemayoran, sebuah pesta akbar digelar. Entah sengaja atau tidak pesta itu diadakan tepat dihari Sumpah Pemuda. Para tamu yang berduyun-duyun mengadiripun bukan orang main-main, dari mulai penyanyi beken, menteri, pengusaha kakap bahkan sampai the first lady, Ny Ani Yudhoyono tampak hadir disana.

“Hati saya terusik ketika beberapa tahun yang lalu kedekatan dan persaudaraan diantara kita sesama pernah terobek. Demikian juga kecintaan kita kepada negeri sendiri, sering melemah,” begitulah yang tertulis dalam pengantar album lagu tersebut.

Inilah Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda versi paling up to date. Ratusan tahun lalu, Gajahmada bersumpah tak akan menikmati buah palapa (baca=mengecap kenikmatan), bila belum bisa menyatukan nusantara. Puluhan tahun silam, para pemuda bersumpah hanya meyakini bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu di zaman reaksinya de Graeff.

Dan kini, sambil tersenyum lebar, kau meluncurkan album musik dalam riuh sebuah rendah pesta. Keprihatinan terhadap segala masalah kebangsaan diberi pengobatan alternatif. Ya, sebuah kumpulan lagu yang mendayu-ndayu memang pas betul untuk pelarian.

Apakah harus begitu? Tentu saja ini pertanyaan bodoh dan tak bertanggung jawab. Tetapi setidaknya, itulah pertanyaan yang jujur. Bila album itu di keluarkan oleh penyanyi atau penggubah lagu profesional its oke, karena memang begitulah caranya menyampaikan ide, suara dan segala harapannya akan perubahan, tentu sambil mempertahankan periuk nasinya. Ya, karena mereka memang bukan pemutus kuasa.

Tetapi ini? Album itu di gubah oleh seorang, yang bisa melakukan apapun di negeri ini dengan amanat undang-undangnya ditangannya. Bahkan kalau mau, dia bisa dan berhak memerintahkan bala tentara terbesar di Asia Tenggara itu, untuk merangsek ke negara tetangga yang beraninya hanya pada TKI saja. Atau kalau mau, sebetulnya dia bisa saja tanda tangani duapuluh persen amanat konstitusi itu untuk pendidikan.

Yups, penggubah lagu itu tak lain dan tak bukan adalah Yang Mulia Presiden Republik Indonesia. Tentu saja presiden yang dipilih rakyat lewat pemilu yang fair, didukung parlemen dan dicintai sebagian rakyatnya.

Aku dulu memang tak memilihmu. Benar. Tetapi itu bukan berarti kemudian aku tak berharap padamu. Kaulah sekarang pemimpin kami, setidaknya itulah yang dibilang undang-undang. Tentu saja ditanganmu tergenggam segala potensi sumberdaya dan sumberdana bangsa ini, plus kekuatan memaksanya untuk melakukan perubahan. Kau mensia-siakan waktumu Tuan.

“Kini, disaat-saat tenang, dalam pergumulan dan perjuangan saya mengemban tugas negara dan menjalankan amanah rakyat, sesekali saya mesti mengekspresikan suasana hati saya dalam bentuk karya seni” begitu kutip Kompas edisi Minggu 4 November 2007 hal 17. Ah, kau berkilah seolah kau telah bekerja keras dan melakukan segalanya untuk bangsa ini.

Tuan, sampai sekarang Lapindo masih mengalir deras. Kelud, Rakata dan Soputan juga masih mengancam setiap detiknya. Korupsi, pengabaian, dan penelantaran masih nongkrong di depan hidung. Sementara tanganmu dan pikiranmu hanya kau gunakan untuk menggubah lagu?

Kau bisa berbuat tuan. Sangat disayangkan jika kau memilih tidak berbuat. Padahal dihari sumpah pemuda ini, kami sangat ingin mendengar kau meneriakan Sumpah Pemuda. Setidaknya sumpah pemuda seperti yang kami bayangkan….

Kami Generasi Baru Indonesia…
BerTanah Air Satu, Tanah Air Tanpa Penindasan…
BerBangsa Satu, Bangsa Yang Gandrung Keadilan…
BerBahasa Satu, Bahasa Kebenaran…..

Kau, bukannya berteriak seperti kami, malah bergumam. Menggumamkan kalimat-kalimat aneh dari orde yang telah lalu.

“Dengan Semangat Sumpah Pemuda, Kita Tingkatkan Kecintaan Kepada Wawasan Kebangsaan Untuk Mengisi Pembangunan Jangka Panjang Tahap II, Untuk Menuju Era Tinggal Landas.”

Betul!! Kau dan kalian memang tinggal landas. Dan selalu rakyat ketinggalan, duduk manis tinggal di landasan. Dan tentu saja album Rinduku Padamu meluncur sukses.

Sekali lagi kau kehilangan suaraku, Tuan.

6 Tanggapan ke "Tuan Presiden; Rinduku Padamu"

cihuy… pertamax..

halah nunggu stempel yang punya rumah segale, ga sido pertamax.. :D :D

begitulah.. dengan bangganya bikin plus nyanyi lagu, sementara kondisi negri yang morat-marit selah2 dibiarkan aja, “kan udah ada menterinya” lha trus presiden buat apa klo kabinet dibiarin jalan sendiri2 dan celakanya banyak yang asal jalan, makan ati… makan ati..
*duongkol mode on* :D

gak masalah..
yang penting masuk dapur rekaman

mudah2an hasil dari penjualan album itu akan disumbangkan untuk pengangguran dan pencari kerja…. wakawakwakwa

ngarepppp

lha presiden kan juga manusia toh mbak.. mungkin dia pas ada ide bikin lagu ya jadilah dia menyanyi… tapi memang rasanya kok kita kurang hiburan ya.. dimana2 beritanya selalu bencana dan musibah, kalau tidak ya korupsi atau pelecehan budaya oleh negara lain. halah kok malah curhat.

Tinggalkan Balasan

SalamSapa

…dan matahari…

adalah cinta yang tidak pernah berakhir. dialah awal dan keakhirannya

SalaMualaikum

  • 20,130 Pengunjung

SalamPenanggalan

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930