Posted by: salamatahari on: Oktober 9, 2007
Seorang teman datang padaku mengeluhkan tentang hidupnya yang semakin lama semakin terpuruk saja. Mulai dari belum mendapat pekerjaan yang sesuai sampai dengan hubungan dengan kekasihnya yang semakin tidak jelas. Aku akui aku bukanlah seorang pendengar yang baik jika dihadapkan dalam situasi seperti ini. Aku lebih sering jengkel kalau mendengar keluh kesahnya. Apa lagi kalau dia sudah menyalahkan nasibnya yang tidak seberuntung aku. Kurasa dia salah mencari pembanding, karena hidupku tidak kalah jeleknya dari dia. Tapi begitulah manusia, selalu mencari pembanding dalam hidup.
Tiba-tiba kau menggugat. “Tuhan tidak adil Num, apa kurangnya aku sholat selama ini?”. “he eh” jawabku singkat karena kupikir dia butuh didengar saja.“aku sudah berbuat baik, puasa, sedekah, tidak menjadi anak durhaka, kurang apa lagi?” Hihihi…aku hanya tertawa dalam hati. Dasar narsis pikirku. Ya, terkadang manusia juga begitu selalu mencari kambing hitam untuk kesialan-kesialan yang menimpanya.
“emang kamu udah berbuat baik apa? sedekahnya berapa? Kurang kali sesajennya” timpalku sembari tersenyum. Sengaja untuk membuatnya tidak terlalu tegang memikirkan masalahnya. “rahasia dong, masa kebaikan dan sedekah di bilang-bilang nanti dikira gak ikhlas” Jawabnya serius. Aku kembali tersenyum dan berfikir ini jawaban ada dua kemungkinan. Yang pertama memang dia tidak ingat pernah berbuat baik dan sedekah karena emang jarang berbuat baik dan sedekah, yang kedua memang ingin agar bila tangan kanan memberi maka tangan kiri tidak perlu tahu.
“mantranya bener gak? “Tanya ku lagi sengaja menjahili dia. Dia tersenyum mendengarnya. Ya aku selalu ingin agar bila berbicara tentang Dia selalu dengan bahasa-bahasaku. Ya, bahasa yang akrab dan aku mengerti. Temanku ini sudah tahu maksudku, dia langsung diam. Sepertinya berfikir serius tentang ucapanku.
“Num, kenapa kamu kok bisa santai begitu siy saat membicarakan Dia? Gak takut kena kutukan?” wkakakaka…akhirnya tak tahan juga akhirnya aku tertawa lepas, dia terlihat jengkel. Dan aku langsung menghentikan tawaku sambil menghapus air mata yang keluar di sudut mataku. “maaf” ujarku agar dia tidak ngambek.
Melihat aku masih sibuk menahan tawaku dia kembali melanjutkan bicaranya. “kamu kalau aku berbuat baik selalu saja bilang aku sedang ngasih sesajen. Lalu bila aku mengaji, berdoa, atau berzikir mengatakan aku sedang membaca mantra. Tapi aku lihat kamu juga solat, mengaji. Apa kamu juga sedang memberikan sesajen dan membaca mantra?” tanyamu panjang, membuatku bingung harus menjawab yang mana dahulu. Tapi seperti biasa setiap pertanyaan darimu selalu kujawab dengan bertanya lagi.
“emang kalau bukan sesajen dan mantra apa?” Kali ini kau diam sejenak lalu menjawab “ya, emang kewajiban kitakan? Dia sudah memberikan kepada kita hidup dan sebagainya, maka kita harus berterima kasih kepada-nya dengan melaksanaka apa yang diperintahkan-nya dan menjauhi apa yang di larang-nya”. Lalu kau mulai mengatakan penggunaan kata sesajen itu terlihat kurang sopan untuk-Nya, apa lagi kata-kata mantra. Aku tak banyak menjelaskan padamu soal kenapa aku begitu. Aku hanya membuka arsip-arsip pada blogku dan mempersilahkan kau membacanya. Seperti disini, disini dan sebuah obrolan kita yang kusimpan manis disini.
Setelah kau membacanya, kau hanya memandangku ingin meminta penjelasan atas semua yang telah kau baca. Aku kira pesanku pada tulisan-tulisaku kuat disana. Aku mencintai tuhanku dan akrab dan karib dengannya. Dia bukan sesosok monster yang suka ngancam dan main hukum. Tuhan yang memiliki kasih yang luas. Terkadang aku menulisnya -mu, -ku, -nya, -ta untuk merujuk Tuhan. Kupikir aku tak perlu memberinya penghargaan dengan memberikan huruf kapital besar untuk menunjukkan-nya. Bertemu dengan-nya sekedar ngobrol, menggugat-nya dan terkadang hanya melempar senyum. Seperti itulah tuhanku.
Aku pikir kenapa selama ini aku terlalu muluk-muluk dalam mengaharapkan sesuatu bila melakukan ritual keagamaan. Mendapat surga, bebas dari neraka, dan hal-hal lain yang membuat senang horny dalam beribadah. Kupikir saat aku melakukan ibadah dengan harapan tersebut maka aku tidak lagi sedang menyembah Tuhan, tapi menyembah ritual-ritual tersebut. Dan dimana Tuhanku?
Tapi sekali lagi, aku hanya seorang anak manusia yang sedang belajar dan mencari makna hidupku juga sepertimu. Apakah beragama dan bertuhan hanya sekedar nempel di otak yang kemudian lumpuh karena kaki-kakinya tidak pernah diajak ikut berjalan dibumi? Kenapa aku mengatakan beragama dan bertuhan? Karena beragama itu lebih condong kepada tanggung jawab secara sosial dan bertuhan lebih kepada tanggung jawab kepada-Nya. “Begitu fren” ucapku ingin mengakhiri obrolan ini. Kau hanya tersenyum tidak mengerti. Dan aku hanya bertanya “ngerti gak? “ kau hanya menggeleng. Dan aku menjawab ringan “sammmma..” sambil nyengir ala icon yahoo.
Sudah panjang lebar aku berbicara denganmu dan sepertinya sudah mendekati waktunya berbuka. Sambil merangkul pundakmu kuajak kau masuk dan berbuka dirumahku. Kulihat kau sudah tak bersedih lagi. Karena hidangannya sangat menggugah seleramu. wkakakaka… dasar jeleeeekkk….
Tuhan tidak adil? Maha suci Dia dari hal-hal sedemikian.
Ujian dan cobaan selalu menyertai atau bahkan mendahului limpahan kasihNya. Semakin berat test yang Dia berikan, maka semakin besar pula peluang rahmat dan ridhoNya yang akan kita raih.. semoga..
tuhan bisa adil, bisa juga tidak adil. itu sih, tinggal bagaimana persepsi orang pada dia dan bagaimana upayanya untuk membuat tuhan yang adil itu ada atau tidak ada.
kalau kita tidak menghadirkan keadilan di bumi ini, maka itu sama saja kita menganggap tuhan yang adil itu tidak ada. sebaliknya, kalau kita berusaha mewujudkan keadilan, maka kita akan menemukan tuhan yang maha adil.
sama kasusnya seperti tuhan yang maha penyayang. kalau kita sayang terhadap sesama, maka tuhan yang maha penyayang itu akan kita temukan, tapi kalau kita selalu benci dan berprasangka buruk pada orang lain, maka kita telah meniadkan tuhan yang maha penyayang.
apapun sifat tuhan, manusia dituntut untuk bermanfaat pada sesamanya, karena manusia adalah khalifah allah di bumi ini, bukan gunung, laut, dll. percuma kita mengaji tinggi-tinggi kalau tetangga susah saja kita masih tak peduli.
hehehe, gw telat cerita beberapa detik ato hitungan jam!!!
artinya gw cerita malam itu setelah ini udah diposting!!
tapi untung gak ada keluar kalimat “tuhan tidak adil”
kebetulan yang sangat kebeneran, hehehehe
[...] postingan si lagak hanum berjudul : benarkah tuhan tidak adil, saya menjadi tergelitik. Menggugat keadilan Tuhan memang sangat manusiawi. Saking manusiawi-nya [...]
adil dan tidak adil itu terletak pada diri kita.
siapakah yang bisa memecahkan rahasia ke- Tuhanan ? tidak tidak akan peduli dengan humanisme, keadilan, demokrasi, kesengsaraan manusia. Dia sudah berdiri dengan kodrat Ilahinya. Manusialah yang menjabarkan segala kekuasaan dan takdir, sehingga kadang manusia mencap stigma terhadap Tuhan. Manusialah yang salah dalam menterjemahkan ke-Tuhanan , apapakah Tuhan merestui jihad membunuh orang tak berdosa atas dasar agama ? Apakah manusia meyakini bahwa Tuhan pasti memasukan ke api neraka orang orang yang bukan Muslim ?
Jadi memang manusia tidak bisa menuntut sebuah keadilan padaNya
hidup..kadang emang terasa ga adil..tapi jika kita memaknai hidup itu lebih dalam, kita akan menemukan berjuta keadilan disana..suatu hal yang indah..
(anggap aja menjalani hidup adalah sedang menjalani sebuah test di ruang kelas)
dan Allah adalah maha pengadil bagi setiap manusia..
salam kenal nan hangat, thanks uah mampir ke blogku, wah tulisannya bagus2 ya…:)
kata siapa tuhan adil..?
Gw kagak setuju itu…!
tapi gw setuju dengan ini,
Tuhan itu maha adil, saking adilnya otak gw yang cuplis ini kagak sanggup untuk ngejangkau kemahaadilannya.
Tuhan gak ada,maha kuasa,maha penyayang dan tidak adil .
tuhan itu ngga adil … contoh : ada orang yang hidup nya enak,kaya,cakep lagi orangnya …. sedangkan orang itu g doa sama sekali … tapi , ada orang doa tiap hari rutin sampe waktu luang di buat doa melulu tapi apa !! miskin,hidup susah,muka ancur2an …. tuhan menguji kita ??? sampe kapan! kta g bakal kuat di cobai terus
Oktober 9, 2007 pada 11:16 pm
kapling dulu koment belakangan..