Panggung

Mei 22, 2007 at 4:16 am | In Perjalanan, Refleksi, Renugan | No Comments

Kawan, jika kau duduk sambil memeluk lutut di perempatan sibuk ini, sementara mata yang menerawang lalu lalang nyalang hanya menangkap suwung, kau akan tahu bagaimana perasaan yang membuncah ruah di hati. Ada penat yang sumeleh, ada riang yang getir dan ada kengerian akan beranjak kemana kota ini dengan segala hiruk-pikuknya.

Ya, aku disini selalu gelisah kawan. Gelisah menunggui waktu yang alpa menjemput janji-Nya memenangkan si papa.

Disini adalah Jakarta, kota lupa diri yang gedung-gedung tingginya dibangun atas amnesia kolektif warganya plus segala simbol-simbol kemakmuran dan kejumawaan modalnya. Sementara perempatan-perempatannya selalu setia menegasikan simbol-simbol dan memilih menjadi potret yang hitam putih apa adanya.

Lihatlah lampu trafict yang menyala bergilir-gilir itu, dari merah, kuning kemudian hijau seolah menjadi penanda pertunjukan purba. Ada perjuangan, ada pecundang, ada aturan rimba yang dibudayakan dan ada darah serta air mata yang menetes-netes mencari tempat berpijak.

Continue reading Panggung…

Bersama Cinta

Mei 22, 2007 at 4:12 am | In Puisi | No Comments

Saat ini aku tak berdaya…
Tak berdaya mengapai cintaku…
Aku tersenyum diperihnya hatiku…
Aku menangis digelaknya rinduku padamu…

Angin telah menerbangkanmu…
Menjauh dariku…
Menjauh dan entah kapan aku akan kembali menemukanmu…
Diantara angin-angin yang berlalu…

Ombak telah menggulungmu…
mengggulungmu menjauh dari perahuku…

Continue reading Bersama Cinta…

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.