Salamatahari

Perjalananan

Posted by: salamatahari on: Juli 31, 2009

“Janji ya,” begitu ujarmu sambil menautkan jari kelingkingmu pada jari kelingkingnya. Sepulang dari Musium Fatahillah Jakarta malam itu tampak kau memikirkan banyak hal. Aku hanya menemani dan diam. Ini hal baru buatku. Yang pasti besok malam kau –juga aku- harus kembali kesana untuk memenuhi janjimu itu. Mungkin dia tak begitu peduli dengan janji yang kau buat dengannya. Tapi aku tahu, kau akan sekuat tenaga untuk memenuhinya. Dan jangan lupa sebuah mainan masak-masakan yang dia idamkan dan ingin kau wujudkan.

“Nama lu Irma kan?” ujarmu sok mengakrabkan diri. Irma yang kau ajak ngobrol itu sedang duduk dipangkuanku.
“Lu..lu..” ujarnya sambil menatap sinis padamu.
“Eh iya, anak cantik nama kamu Irma kan?” kau melarat ucapanmu. Aku hanya bisa mesem-mesem melihat gayanya yang ingin di hormati itu.

Melihat ukuran tubuhnya Irma mungkin baru berumur empat tahun. Didadanya tampak banyak bekas luka. Seperti luka sundutan rokok.

“Ini kenapa Ma?” tanyamu sambil memegang bekas luka pada dadanya.
“Jatuh” jawabnya sambil membuang muka.

Lima ribuan yang kau berikan kepadanya membuat dia mungkin agak sedikit memiliki waktu untuk bermain sejenak. Kecrekan botol air mineral berisi beras yang biasa digunakan buat ngamen tergeletak begitu saja. Dengan beberapa temannya dia asyik bermain buaya-buayaan.

Keisengan dengan suka menjahili temannya tak jarang membuat dia jadi sasaran anak yang lebih besar. Tapi namanya anak-anak marahan hanya bertahan beberapa saat saja. Terus kembali berteman. Seandainya orang dewasa juga seperti itu ya pikirku.

Malam terus beranjak turun. Anak-anak pengamen itu kembali pulang. Entah pulang kenapa. Terlihat beberapa anak digiring oleh ibu mereka. Mereka saling kenal berkenal dan ada beberapa adalah saudara bersaudara. Seperti Yuli yang kakak dari Dwi, teman sepengamen Irma.

“Besok temani aku lagi kesini ya?”

Aku yang kau ajak berbicara hanya senyum saja.

“Oia, sekalian temani beli mainan buat Irma”

Aku mulai membayangkan seperti apa besok wajah Irma bila menerima mainan masak-masakan darimu itu. Tak sadar pelukanku dipinggangmu semakin erat di atas motor yang melaju membawaku kembali pulang.

Kembang Api

Posted by: salamatahari on: Januari 1, 2009

Ribuan kembang api membelah gelap. Mungkin seharga puluhan juta. Monas katanya macet, Ancol seperti biasa tak bergerak setiap menjelang tutup tahun. Jalanan Jakarta pingsan.

Disini, di Banda Aceh juga tak mau kalah. dari Blang Padang cahaya memandikan angkasa. Warna merah, kuning, hijau berebut berpendar. Ribuan kepala mendonggak. Ribuan mata terpukau. Kagum. Amnesia kolektif.

Handsfree masih melekat ditelinga. Sepi, karena yang terdengar hanya suara nafas mengalir pelan satu-satu. Gelisah.
“Apa yang kau gelisahkan sayang?” tanyaku lambat-lambat.
“Gelisah tentang kita. Aku, kamu dan mereka yang mau kemana” bisikmu pelan.
Aku tak mengerti betul apa yang kau gelisahkan. Mungkin dari tempatmu berdiri, kau sedang melihat kebawah dimana ratusan ribu orang menyemut. Memenuhi jalanan dan berdesak-desakan menonton cahaya. Penghamburan. Baca entri selengkapnya »

Aceh Niyeee…(2)

Posted by: salamatahari on: November 25, 2008

“Sore, gak sepedaan bu?” sapamu di awal YM-an kita.

“Gak, lagi capek” balasku. “Gimana NGO-mu?” tuliskuku lagi. Teman YM-ku tak lain si-NGO asal Jawa. Sama-sama suka bersepeda dan menghabiskan sore di taman kota.

Finelah. Lagi sibuk apa niy?” balasnya.

“Gak sibuk kok. Lagi santai malah” jawabku asal.

“ya iyalah, masa PNS Aceh sibuk. Gak banget kali” tulisnya ditambah icon smile yang cekikikan. Sialan, ngajak ribut niy anak. Baru beberapa kalimat udah bikin rusuh. Kebayang deh wajah katroknya yang lagi tertawa senang. Huh, awas ya.

“Enak aja. Stereotipe lo” balasku. Dia cuma membalas dengan icon tertawa.

“Oups, sorry. Orang Aceh tipis kuping ya?”

“Sialan, ngajak ribut?” tulisku. Kali ini icon smile berguling-guling tampil di layarku.

Baca entri selengkapnya »

Aceh Niyeee… (1)

Posted by: salamatahari on: November 20, 2008

“Benar kamu orang Aceh?” tanya teman baruku. Kerja di NGO asing, asal tanah Jawa.

“Ya, aku orang Aceh. Setidaknya aku lahir dari rahim seorang wanita Aceh yang memiliki suami Aceh pula. Udara Aceh ini juga yang kuhirup saat tangisan pertamaku membahana di dunia” jawabku penuh percaya diri

“Cinta dunk kamu sama Aceh”

“Biasa aja. Aku mencintai kebaikan” jawabku diplomatis

“Oh, bisa bahasa Aceh?” tanyannya lagi

“Bisa” ucapku cepat. Lalu diam sejenak. “ehmm…sedikit” sambungku sedikit ragu. Dia tak salah bila bertanya demikian, karena setiap ngobrol dengan teman sedaerah, aku sangat jarang menggunakan bahasa Aceh, hampir tidak pernah. Kalau pun temanku berbahasa aceh, biasanya aku jawab dengan bahasa Indonesia. Dia ingin mojokin pikirku. Tak ingin buruk sangka. Kubiarkan dia bertanya lagi.

Baca entri selengkapnya »

kedai

Posted by: salamatahari on: Oktober 7, 2008

Kedai bakso Rahayu tampak ramai siang ini. Belasan kursi yang tersedia nampak penuh. Di deretan ujung, dekat dengan jendela sepasang muda-mudi tampak mesra. Sepertinya mereka baru jatuh cinta. Terlihat dari binar mata si gadis yang selalu lekat pada sang kekasih. Begitu juga senyum di bibir lelaki muda pasangannya, cerah seperti matahari bulan Agustus yang terang dan hangat. Sesekali tawa renyah mereka memecah, membuat iri pengunjung lain.

Salah satu yang mungkin tampak sangat iri adalah lelaki lebih separuh baya yang duduk di seberang mereka. Rambutnya nyaris memutih semua, ditambah beberapa kerut-merut diwajah lengkaplah cerita panjang waktu yang tertempuh. Selalu dengan ekor matanya, si lelaki lebih separuh baya itu melieik pandang pada keduanya.

Aku tak tahu yang dipikir lelaki lebih dari separuh baya saat melihat pasangan bercinta itu. Mungkin ia mengenangkan pada masa mudanya yang lewat dan tak mungkin diulang, atau ia justru sedang teringat pada anak-anaknya yang beranjak dewasa dan mungkin saja baru mengenal cinta. Persis seperti pasangan di depannya.

Baca entri selengkapnya »

SalamSapa

…dan matahari…

adalah cinta yang tidak pernah berakhir. dialah awal dan keakhirannya

SalaMualaikum

  • 20,059 Pengunjung

SalamPenanggalan

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30