Posted by: salamatahari on: November 22, 2009
Ta, maafkan aku yang selalu membawa api belakangan ini. Alih-alih berharap mendapat hangat, kau malah terbakar. Terbakar untuk sebuah keentahan. Kau lah tanah liat itu Ta. Dibentuk, terbakar dan menjadi tembikar…Lalu di hempaskan.
“Apakah tidak menjadi penting bagaimana aku merelakan diri menjadi tanah liat yang dapat kau bentuk sesuka hatimu? Setelah kau bentuk, akupun rela terbakar untuk menguatkan tanah liat itu agar menjadi sebuah tembikar indah. Lalu setelah tembikar itu selesai, dengan gampangnya kau hancurkan. Aku dimana?” gugatmu suatu hari. Seperti biasa aku hanya diam. Ya, karena memang tidak ada yang harus aku katakan, kau sepenuhnya benar.
Setelah api tak bisa menghangatkanku, kembali kucoba setubuhi bulan dan bintang. Dan ternyata mereka gagal mengindahi malam-malam kita. Kini aku mulai menyalahkan ruang dan jarak yang kejam memisahkan. Tidak tangung-tangung, rencongku pun ikut menari diantara kita.
“aku lelah. Kita tidak akan kemana-mana dengan begini” ujuarmu datar.
Aku bersepakat sekaligus menentang semua ini. Kita tahu memang jalannya akan seperti ini dan berjanji akan selalu bersama-sama walau harus berdarah-darah. Tiada akhir bagiku bila itu untuk bersamamu. Tidak.
Mari genggam tanganku lagi. Sematkan percayamu pada dadaku. Jangan menyerah.
Posted by: salamatahari on: November 22, 2009
Maaf teman, bila ini harus berakhir bukan salahmu. Hari-hari berhujan itu tak akan terulang lagi. Begitu juga gelap, terang dan segala keindahannya. Suara yang biasa menuntunmu juga akan melemah dan kemudian berangsur lenyap. Semua bukan tanpa kau sadari. Karena rambunya kupasang tepat dihadapanmu.
Bila kemarin aku disana, itu juga bukan salahmu. Juga bukan karena keisenganNya. Aku bukan iblis yang ingin menggodamu. Dengan sadar menjerumuskanmu dalam neraka jahanam. Aku juga bukan malaikat tanpa sayap seperti katamu suatu hari. Turun rendah menggapaimu lalu membawamu ke nirwana. Memabukkan. Merengkuhmu untuk dihempas paksa ke bumi. Tak berperasaan. Bukan, aku tak begitu.
Selamanya ada disisimu berteman segala diam dan kensunyian. Mencoba memahami dari setiap kebisuanmu. Namun aku selalu saja terbata-bata dalam memahamimu. Membiarkanmu menjauh disaat aku membutuhkan dirimu. menatapmu bagaikan cahaya yang seharusnya bukan menjadi milikku untuk menikmati segala tentang dirimu.
Aku memilihmu karena kau. Mari sembuhkan segala luka itu dan kita bangun kembali serpihan hati yang hancur.
Posted by: salamatahari on: Juli 31, 2009
“Janji ya,” begitu ujarmu sambil menautkan jari kelingkingmu pada jari kelingkingnya. Sepulang dari Musium Fatahillah Jakarta malam itu tampak kau memikirkan banyak hal. Aku hanya menemani dan diam. Ini hal baru buatku. Yang pasti besok malam kau –juga aku- harus kembali kesana untuk memenuhi janjimu itu. Mungkin dia tak begitu peduli dengan janji yang kau buat dengannya. Tapi aku tahu, kau akan sekuat tenaga untuk memenuhinya. Dan jangan lupa sebuah mainan masak-masakan yang dia idamkan dan ingin kau wujudkan.
“Nama lu Irma kan?” ujarmu sok mengakrabkan diri. Irma yang kau ajak ngobrol itu sedang duduk dipangkuanku.
“Lu..lu..” ujarnya sambil menatap sinis padamu.
“Eh iya, anak cantik nama kamu Irma kan?” kau melarat ucapanmu. Aku hanya bisa mesem-mesem melihat gayanya yang ingin di hormati itu.
Melihat ukuran tubuhnya Irma mungkin baru berumur empat tahun. Didadanya tampak banyak bekas luka. Seperti luka sundutan rokok.
“Ini kenapa Ma?” tanyamu sambil memegang bekas luka pada dadanya.
“Jatuh” jawabnya sambil membuang muka.
Lima ribuan yang kau berikan kepadanya membuat dia mungkin agak sedikit memiliki waktu untuk bermain sejenak. Kecrekan botol air mineral berisi beras yang biasa digunakan buat ngamen tergeletak begitu saja. Dengan beberapa temannya dia asyik bermain buaya-buayaan.
Keisengan dengan suka menjahili temannya tak jarang membuat dia jadi sasaran anak yang lebih besar. Tapi namanya anak-anak marahan hanya bertahan beberapa saat saja. Terus kembali berteman. Seandainya orang dewasa juga seperti itu ya pikirku.
Malam terus beranjak turun. Anak-anak pengamen itu kembali pulang. Entah pulang kenapa. Terlihat beberapa anak digiring oleh ibu mereka. Mereka saling kenal berkenal dan ada beberapa adalah saudara bersaudara. Seperti Yuli yang kakak dari Dwi, teman sepengamen Irma.
“Besok temani aku lagi kesini ya?”
Aku yang kau ajak berbicara hanya senyum saja.
“Oia, sekalian temani beli mainan buat Irma”
Aku mulai membayangkan seperti apa besok wajah Irma bila menerima mainan masak-masakan darimu itu. Tak sadar pelukanku dipinggangmu semakin erat di atas motor yang melaju membawaku kembali pulang.
Posted by: salamatahari on: Januari 1, 2009
Ribuan kembang api membelah gelap. Mungkin seharga puluhan juta. Monas katanya macet, Ancol seperti biasa tak bergerak setiap menjelang tutup tahun. Jalanan Jakarta pingsan.
Disini, di Banda Aceh juga tak mau kalah. dari Blang Padang cahaya memandikan angkasa. Warna merah, kuning, hijau berebut berpendar. Ribuan kepala mendonggak. Ribuan mata terpukau. Kagum. Amnesia kolektif.
Handsfree masih melekat ditelinga. Sepi, karena yang terdengar hanya suara nafas mengalir pelan satu-satu. Gelisah.
“Apa yang kau gelisahkan sayang?” tanyaku lambat-lambat.
“Gelisah tentang kita. Aku, kamu dan mereka yang mau kemana” bisikmu pelan.
Aku tak mengerti betul apa yang kau gelisahkan. Mungkin dari tempatmu berdiri, kau sedang melihat kebawah dimana ratusan ribu orang menyemut. Memenuhi jalanan dan berdesak-desakan menonton cahaya. Penghamburan. Baca entri selengkapnya »
Posted by: salamatahari on: November 25, 2008
“Sore, gak sepedaan bu?” sapamu di awal YM-an kita.
“Gak, lagi capek” balasku. “Gimana NGO-mu?” tuliskuku lagi. Teman YM-ku tak lain si-NGO asal Jawa. Sama-sama suka bersepeda dan menghabiskan sore di taman kota.
“Finelah. Lagi sibuk apa niy?” balasnya.
“Gak sibuk kok. Lagi santai malah” jawabku asal.
“ya iyalah, masa PNS Aceh sibuk. Gak banget kali” tulisnya ditambah icon smile yang cekikikan. Sialan, ngajak ribut niy anak. Baru beberapa kalimat udah bikin rusuh. Kebayang deh wajah katroknya yang lagi tertawa senang. Huh, awas ya.
“Enak aja. Stereotipe lo” balasku. Dia cuma membalas dengan icon tertawa.
“Oups, sorry. Orang Aceh tipis kuping ya?”
“Sialan, ngajak ribut?” tulisku. Kali ini icon smile berguling-guling tampil di layarku.
SalamTeman