Kembang Api

Dikirim Uncategorized pada Januari 1, 2009 oleh salamatahari

Ribuan kembang api membelah gelap. Mungkin seharga puluhan juta. Monas katanya macet, Ancol seperti biasa tak bergerak setiap menjelang tutup tahun. Jalanan Jakarta pingsan.

Disini, di Banda Aceh juga tak mau kalah. dari Blang Padang cahaya memandikan angkasa. Warna merah, kuning, hijau berebut berpendar. Ribuan kepala mendonggak. Ribuan mata terpukau. Kagum. Amnesia kolektif.

Handsfree masih melekat ditelinga. Sepi, karena yang terdengar hanya suara nafas mengalir pelan satu-satu. Gelisah.
“Apa yang kau gelisahkan sayang?” tanyaku lambat-lambat.
“Gelisah tentang kita. Aku, kamu dan mereka yang mau kemana” bisikmu pelan.
Aku tak mengerti betul apa yang kau gelisahkan. Mungkin dari tempatmu berdiri, kau sedang melihat kebawah dimana ratusan ribu orang menyemut. Memenuhi jalanan dan berdesak-desakan menonton cahaya. Penghamburan. Baca selebihnya »

Aceh Niyeee…(2)

Dikirim Uncategorized pada Nopember 25, 2008 oleh salamatahari

“Sore, gak sepedaan bu?” sapamu di awal YM-an kita.

“Gak, lagi capek” balasku. “Gimana NGO-mu?” tuliskuku lagi. Teman YM-ku tak lain si-NGO asal Jawa. Sama-sama suka bersepeda dan menghabiskan sore di taman kota.

Finelah. Lagi sibuk apa niy?” balasnya.

“Gak sibuk kok. Lagi santai malah” jawabku asal.

“ya iyalah, masa PNS Aceh sibuk. Gak banget kali” tulisnya ditambah icon smile yang cekikikan. Sialan, ngajak ribut niy anak. Baru beberapa kalimat udah bikin rusuh. Kebayang deh wajah katroknya yang lagi tertawa senang. Huh, awas ya.

“Enak aja. Stereotipe lo” balasku. Dia cuma membalas dengan icon tertawa.

“Oups, sorry. Orang Aceh tipis kuping ya?”

“Sialan, ngajak ribut?” tulisku. Kali ini icon smile berguling-guling tampil di layarku.

Baca selebihnya »

Aceh Niyeee… (1)

Dikirim Nanggroe, Obrolan pada Nopember 20, 2008 oleh salamatahari

“Benar kamu orang Aceh?” tanya teman baruku. Kerja di NGO asing, asal tanah Jawa.

“Ya, aku orang Aceh. Setidaknya aku lahir dari rahim seorang wanita Aceh yang memiliki suami Aceh pula. Udara Aceh ini juga yang kuhirup saat tangisan pertamaku membahana di dunia” jawabku penuh percaya diri

“Cinta dunk kamu sama Aceh”

“Biasa aja. Aku mencintai kebaikan” jawabku diplomatis

“Oh, bisa bahasa Aceh?” tanyannya lagi

“Bisa” ucapku cepat. Lalu diam sejenak. “ehmm…sedikit” sambungku sedikit ragu. Dia tak salah bila bertanya demikian, karena setiap ngobrol dengan teman sedaerah, aku sangat jarang menggunakan bahasa Aceh, hampir tidak pernah. Kalau pun temanku berbahasa aceh, biasanya aku jawab dengan bahasa Indonesia. Dia ingin mojokin pikirku. Tak ingin buruk sangka. Kubiarkan dia bertanya lagi.

Baca selebihnya »

kedai

Dikirim Uncategorized pada Oktober 7, 2008 oleh salamatahari

Kedai bakso Rahayu tampak ramai siang ini. Belasan kursi yang tersedia nampak penuh. Di deretan ujung, dekat dengan jendela sepasang muda-mudi tampak mesra. Sepertinya mereka baru jatuh cinta. Terlihat dari binar mata si gadis yang selalu lekat pada sang kekasih. Begitu juga senyum di bibir lelaki muda pasangannya, cerah seperti matahari bulan Agustus yang terang dan hangat. Sesekali tawa renyah mereka memecah, membuat iri pengunjung lain.

Salah satu yang mungkin tampak sangat iri adalah lelaki lebih separuh baya yang duduk di seberang mereka. Rambutnya nyaris memutih semua, ditambah beberapa kerut-merut diwajah lengkaplah cerita panjang waktu yang tertempuh. Selalu dengan ekor matanya, si lelaki lebih separuh baya itu melieik pandang pada keduanya.

Aku tak tahu yang dipikir lelaki lebih dari separuh baya saat melihat pasangan bercinta itu. Mungkin ia mengenangkan pada masa mudanya yang lewat dan tak mungkin diulang, atau ia justru sedang teringat pada anak-anaknya yang beranjak dewasa dan mungkin saja baru mengenal cinta. Persis seperti pasangan di depannya.

Baca selebihnya »

Roh

Dikirim Uncategorized pada September 25, 2008 oleh salamatahari

“Setelah orang menjadi baik, apakah ia masih membutuhkan agama,” begitu tanyaku padamu.

Aku tak mengerti, yang kutahu kau terdiam. Biasanya kau akan berucap begini, “ngomongin Tuhan berat, ngomongin agama juga berat, topik yang tidak tahu kapan berakhirnya bila memulai ngomongin itu. Dan mungkin setiap orang akan berbeda-beda cara untuk  mengakhiri pencariannya”

Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan retoris, “Apakah agama memang “diturunkan” untuk membuat kebaikan, atau jangan-jangan dia justru nggak di design seperti bayanganmu tadi,” katamu kalem.

Nah lho, begini niy kalau nekat ngomongin agama dengan orang tak beragama, ngomongin tuhan dengan orang tak bertuhan. Ditanya apa, yang dijawab apa, Jaka Sembung bawa golok kan?

“Agama sebagai seperangkat nilai mestinya organis dan berkembang menyesuaikan tingkat peradaban masyarakatnya. So, apakah agama yang kamu maksud tadi kompatibel dengan kelaluan, kekinian dan kemasadepanannya kelak? Jangan-jangan kalian itu cuma jayus saja,” ucapmu dengan ekspresi datar, sedatar jalan tol.

Jayus? Beragama dibilang jayus? Oh my God, racun apa yang ditelan manusia ini sepanjang hidupnya.

Baca selebihnya »