Fragmen Para Badut

Juli 7, 2008 at 3:55 pm | In Uncategorized | 1 Comment

Di depan pintu ruang rapat komisi VII, beberapa orang asyik ngobrol. Sesekali obrolan gayeng itu di sela tawa lepas, saking kerasnya, suara tawa itu terdengar sampai ujung. Ruang komisi VII itu sendiri ada di ujung dekat pintu masuk gedung Nusantara I. Dibarisan itu, sebelah menyebelah adalah ruang rapat Komisi VI, IX dan XI yang berada di ujung lainnya. Bila suara tertawa lepas itu bisa didengar sampai di depan komisi XI, bisa dibayangkan betapa kerasnya suara itu.

Orang-orang yang ngobrol itu karena bebas tertawa keras tanpa ditegur pamdal, tentu saja bukan orang sembarangan. Karena dibaju safarinya tersemat lambang garuda. Yups lambang itu tentu bukan main-main, garuda itulah yang menunjukan bahwa mereka adalah sang tuan rumah di gedung itu. Ya, mereka tak lain dan tak bukan merupakan anggota DPR yang konon kabarnya sangat-sangat terhormat. Karena yang bicara adalah orang terhormat. Maka apapun yang dibicarakan pastilah hal-hal yang sangat terhormat. Apalagi dalam kondisi sekarang saat BBM naik tinggi dan lupa bagaimana cara menurunkannya kembali.

Continue reading Fragmen Para Badut…

Beraninya Kok Cuma Naik; Coba Kalau Berani Turun!!!

Juli 6, 2008 at 8:50 pm | In Perjalanan | 1 Comment
dari catatan Mei silam ketika BBM naik

BBM naik lagi ya? Huuuu telat looo…. Lho nggak jadi toh naik bulan Mei ini? Huuu telat lagi looo… Masih tetap nekat naik walau di demo berdarah darah gitu?

“emang gue pikirin”

Ngomong kepada pemerintah, tak ubahnya ngomong dengan tembok tebal tak tahu malu. Karena tembok tentu saja tak ada daun telinganya buat mendengar ditambah lagi syaraf malunya soak. Dus, karena dari sononya tak bertelinga maka agar kita tetap sehat, lebih baik jangan berharap apapun. Rakyat biar saja mampus, biar saja ibu-ibu berteriak anaknya kelaparan, biar saja bapak-bapak setengah mati pontang panting cari utangan, biar saja… biar saja…

“emang gue pikirin”

Continue reading Beraninya Kok Cuma Naik; Coba Kalau Berani Turun!!!…

Raffles Menangis Ketika Meninggalkan Jawa

Juli 4, 2008 at 12:07 am | In bacaan | 2 Comments

Judul buku: The History of Java
Penulis: Thomas Stamford Raffles
Alih bahasa: Eko Prasetyaningrum, Nuryati Agustin, Idda Qoryati Mahbubah
Penerbit: Penerbit Narasi
Halaman: 904 halaman+XXXVI

Berawal dari rasa kecewa akibat harus meninggalkan tanah Jawa, Thomas Stamford Raffles, kemudian menggagas sebuah proyek mercusuar bernama “Singapore”. Kala itu Raffles bersumpah akan menciptakan sebuah koloni baru yang walaupun kecil namun kelak akan lebih maju dibanding tanah Jawa yang dengan sangat terpaksa ditinggalkannya.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut Raffles kemudian mengikat perjanjian dengan Temenggong Sri Maharaja penguasa kawasan tersebut dengan syarat, Inggris diperbolehkan mendirikan pusat perdagangan di pulau kecil tersebut. Sebagai gantinya Inggris akan melindungi Temenggong Sri Maharaja dari ancaman serangan Belanda atau orang-orang dari Bugis. Tak menunggu lama, sumpah Raffles tersebut terbukti. Pulau Singapura kemudian menjadi koloni perdagangan Inggris paling maju dan strategis dalam sejarah kolonialisme Inggris di Hindia Timur.
Continue reading Raffles Menangis Ketika Meninggalkan Jawa…

Sosialisme Abad 21 Jalan Alternatif Atas Neo-liberalisme

Juli 3, 2008 at 11:58 pm | In bacaan | No Comments

Akan tercipta sebuah masa, ketika sistem kapitalis akan hancur berkeping-keping dan lonceng kematian hak milik pribadi kapitalis berdentang. Penjarah akan dijarah. Kata Karl Mark, pada tahun 1867 saat menutup jilid pertama Das Kapital dengan optimisme. Seratus tahun berselang dari peryataan itu, semuanya berubah total. Gerak balik dramatis justru terjadi di penghujung abad 20 saat blok Soviet runtuh dan kapitalis berjaya. Banyak yang beranggapan sosialisme tak lebih dari sekadar peninggalan masa lalu yang akan segera punah dalam proses perjalanan abad ini. Demikian Michael Newman, profesor politik dari Universitas Metropolitan London memulai dalam pendahuluan bukunya, “Sosialisme Abad 21 Jalan Alternatif Atas Neoliberalisme”.
Tampilnya kapitalisme sebagai satu-satunya ideologi tunggal yang dianut dunia tentu menggelisahkan banyak orang yang masih menganggap “the another world is possible”. Apalagi prakteknya kemudian, kapitalis dalam bentuknya yang paling mutakhir, neo-liberalisme nyata-nyata tak pernah berhasil menjawab tantangan dunia yang lebih ‘berkeadilan’.
Continue reading Sosialisme Abad 21 Jalan Alternatif Atas Neo-liberalisme…

May Day; Meneladani Marsinah

April 30, 2008 at 5:33 am | In Perjalanan, Uncategorized | 2 Comments
Tags: , ,

Mengenang Marsinah dan kematiannya belasan tahun silam adalah mengenang rimba. Berbicara mengenai rimba dan bahasa kekuasannya tentu tak ada nama yang pantas disebut selain macan, singa dan ular-ularan yang licik. Disana tak ada tempat buat kijang, tikus, kecoak atau mahkluk lemah.

Di rimba itu Marsinah tentu saja bukan sejenis macan, singa atau bangsa ular-ularan yang licik. Tetapi dia juga bukan dari jenis kijang, tikus atau kecoak yang lembek. Dia adalah mahkluk “lain” bukan dari golongan penindas, juga bukan dari golongan yang diam saja bila haknya ditindas. Di benaknya mungkin ia hanya mengenal kosa kata yang tunggal untuk ketidakadilan. Lawan!!

Tentu saja kata lawan itulah yang kemudian membuat tubuhnya ditemukan disebuah gubuk reot di pos jaga hutan jati Wilangan, 9 Mei 1993. Mengira Marsinah adalah orang gila yang sedang tertidur, anak-anak melemparinya dengan batu untuk membangunkannya. Ketika tetap tak bergeming, seorang petani memberanikan menghampirinya. Ah, tubuh Marsinah sudah tak bernyawa. Dari roknya mengalir darah yang sudah menghitam. Diduga benda runcing telah melubangi perutnya sedalam 20 centimeter itulah yang membunuhnya. Tak hanya itu, hiasan lainnya berupa memar di dagu, lengan dan paha. Selain itu, selaput daranya robek, sementara tulang kelamin bagian depannya hancur. Begitulah rimba bekerja dengan cakar dan taringnya.

Continue reading May Day; Meneladani Marsinah…

Menolak kartini…

April 22, 2008 at 11:29 pm | In Tokoh | 5 Comments
Tags: , , , ,

Dulu ketika seragam sekolahku masih putih merah dan lidahku masih kesulitan untuk mengeja huruf er, hari kartini (maaf huruf k-nya sengaja di kecilin-red) selalu menarik minatku. Bagaimana tidak, dihari itu pemandangan di sekolah menjadi lebih semarak. Yups, baju putih dan rok merah dihari itu dipensiunkan. Sebagai gantinya aku -begitu juga murid perempuan yang lain- berdandan mirip emak-emak dengan kebaya dan sanggulnya yang mirip ban radial.

Kalau sudah begini semua menjadi ribet deh. Acara favorit kala istirahat yakni lari kejar-kejaran atau main lompat tali mesti disingkiri jauh-jauh hari itu. Ya iyalah, mana bisa pakai kebaya dan bersanggul main kejar-kejaran sambil lompat tali. So, jadilah kartini di otak masa kecilku dimaknai sebagai keribetan kerena harus bersekolah mengenakan kebaya dan bersanggul. Dan maaf saja, bila hanya begitu rekamanku tentang hari kartini, tak kurang dan tak lebih. Tentang kartini sebagai pahlawan emansipasi perempuan? Ah, kupikir benda macam apa pula itu.

Continue reading Menolak kartini……

Mau Sembuh? Antri Dulu…

April 8, 2008 at 4:26 pm | In Uncategorized | 4 Comments

Siang saat matahari tepat berada dipuncaknya, sebuah kursi panjang tampak dijejali orang menunggu namanya dipanggil. Karena penuh, beberapa lainnya terpaksa berdiri atau hanya cukup bersandar di tembok. Jangan pernah membayangkan antrian itu, seperti antrian boarding dibandara atau antri setor uang di bank yang berkursi empuk dan berhawa sejuk. Sepintas saja kita langsung paham, para pengantri berwajah penat bin lelah tak lain antrian di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).

Continue reading Mau Sembuh? Antri Dulu……

Juragan Asbun

April 7, 2008 at 10:17 pm | In Uncategorized | 5 Comments

Apakah diwaktu kecil anda pernah bercita-cita menjadi seorang pahlawan? Kalau pernah sepertinya sekaranglah saatnya anda mewujudkan cita-cita masa kecil tersebut. Anda tak perlu mati lebih dulu atau menjadi tentara yang kemudian menyerbu negara tetangga dan gugur di medan perang.

Continue reading Juragan Asbun…

Pilihan

April 3, 2008 at 10:07 pm | In Obrolan, Uncategorized | 3 Comments

Yang kutahu hatinya mungkin telah lama membeku. Bahkan terik matahari padang pasir sepertinya tak sanggup sedikitpun mengalirkan hangat. Entahlah, hari-harinya lama membusuk dan menjadi kekosongan yang tak bertepi. Pedihnya ikut mengalir bersama malam, bintang, padang pasir, serta kawanan serigala dan binatang-binatang buas yang selalu menggelayutinya.

Continue reading Pilihan…

Dua Pemimpin

Maret 5, 2008 at 12:11 am | In Perjalanan, Refleksi, bulan | 8 Comments

Ketika jiwa ini lelah. Lamunanku berlari mundur ke beberapa ratus tahun silam. Dimalam berselimut jubah kegelapan. Anginpun bernyanyi dalam kedinginannya. Seharusnya setiap orang sudah terlelap saat itu. Dengan rasa nyaman dan perut kenyang tentunya. Tapi tidak baginya.

Continue reading Dua Pemimpin…

Hidup Republik !!

Februari 28, 2008 at 1:52 am | In Uncategorized | 4 Comments

korbanDi republik ini, tak ada yang tak masuk akal. Semua masuk akal atau setidaknya coba dipaksakan masuk diakal. Tak ada yang muskil, make up bisa saja didipoleskan agar kelihatan masuk akal dan diterima nalar.

Apa yang kita pikirkan tak pernah dianggap penting. Apapun itu. Anda hanya perlu menutup mata, menutup telinga dan mematikan rasa. Realitas sudah disediakan dan siap dikonsumsi atau ditelan mentah-mentah tanpa dikunyah.

Continue reading Hidup Republik !!…

Reinaldo

Februari 26, 2008 at 5:07 pm | In Tokoh | 4 Comments
Tags:

Alfredo…bisu di sekelilingku saat ini,
Hatiku beku dadaku bergetar
Tak lagi merasakan air mata yang mengalir
Tak ada lagi tawamu kawan…

Hanya diiringi gitar bolong Gastao Salsinha dan beberapa kawannya bernyanyi. Lamat-lamat suaranya mengalir pelan dan merayap mengelus padang alang-alang lalu menembus latar pegunungan dibelakangnya. Continue reading Reinaldo…

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.